Berada di kuartal terakhir 2023, pikiran-pikiran yang menumpuk selama sepuluh bulan terakhir akhirnya mencapai batas. Beberapa urusan sudah hampir sampai di ujung, menanti dituntaskan dengan penuh tanggung jawab. Beberapa urusan yang lain baru memulai perjalanannya, membuatku perlu adjusting lagi soal caraku menghadapi masalah misal soal manajemen waktu, lingkungan, dan gaya hidup yang mungkin bisa berubah dalam hitungan bulan saja. Repot memang, tapi daripada jalan di tempat ga ada progres, mending bersusah-susah dulu kan?

Bicara soal progres, akhir-akhir ini aku kepikiran lanjutan dari "magnum opus"-ku yang belum sempat tersentuh lagi setelah beberapa lama. Senior dan orang-orang di sekitarku bilang, "ayo dikerjain, jangan dipikirin terus". Kalau sudah disinggung dan diberi pesan seperti itu, aku lantas berdalih, "Sebentar satu-satu dulu, selesaikan yang lain dulu baru aku fokus ke sini lagi." Padahal itu sebenarnya lagi khawatir banget takut ga selesai... Lalu cerita tentang aku punya dua teman –salah satunya sepupuku– mereka sedang berada di negeri orang. Satunya ke Jepang buat penelitian, satunya lagi ke Turki buat pertukaran mahasiswa. Aku murni seneng dan excited dengan pencapaian keren mereka berdua yang dipercaya buat jadi orang pilihan dari kampusnya untuk melakukan hal yang ga semua orang dapat kesempatan itu. Gara-gara itu aku iseng kepikiran, "Kalau mereka udah lihat Jepang dan Turki, besok aku bakal lihat yang mana ya?" Hehe :D 

Di saat lagi gamang begini, ajaib tiba-tiba di page media sosialku ada sebuah konten promosi band indie lokal, The Lantis, tentang lagunya yang berjudul "Lampu Merah". Yang bikin aku tertarik dengerin versi fullnya tuh karena di konten tadi mereka cantumkan band lain yang jadi inspirasi mereka antara lain: The Adams, Naif, dan Bilal Indrajaya (yang notabene sering kudengarkan). Coba-coba searching, ketemu, dengerin, dan boom! Malah tertampar sama liriknya karena relate wkwkwk. Selain liriknya, warna musiknya oke dan bisa diterima di telingaku. Terus nadanya juga menarik, lucu, bikin terngiang-ngiang. Buatku pribadi, aku udah kena ulti lagu ini sejak baris pertama:

Terlambatlah ke sana

Karena aku terlena

Ekspektasi mereka

Aku buat kecewa

Kalau dihubungkan dengan recent life-ku, menurutku aku masih di tahap proses mewujudkan harapan orang-orang. Meskipun masih diupayakan, ketakutan ga berdasar soal masa depan pasti ada dan terbayang entah sampai kapan. Takut mengecewakan, takut tidak sesuai prediksi, takut ternyata ada plan lain yang sudah disiapkan Sang Maha Daya. Terlebih sekarang sudah tidak sesibuk dibanding ketika masih tahun pertama-ketiga, betul adanya kalau aku takut terlena.

Sekitar istirahat pergantian slot asisten praktikum pukul 12.00 yang lalu, ada satu kejadian dimana aku ngobrol dengan Pak Sigit, salah satu laboran di lab Informatika perihal rencana studi. Beliau tiba-tiba menceritakan tentang struggle-nya dalam menyelesaikan tugas akhir yang selesai dalam waktu dua minggu. Beliau juga meyakinkan aku bahwa magnum opus-ku harusnya bisa selesai tepat waktu. Kejadian siang ini seakan-akan jawaban dari kegamangan yang terjadi semalam. Gilak, aku langsung dapet pencerahan. Beberapa kalimat yang kuperhatikan betul antara lain:

"Harusnya bisa selesai tepat waktu, kok."

"Semester-semester kemarin kamu malah ikut lebih dari dua kegiatan di luar kampus. Dan buktinya kehandle semua, ga ada yang miss. Terus kenapa yang satu ini kehambat? Kira-kira kenapa coba?" 

"Kemarin bisa kehandle semua sebab ada orang lain yang bantu ngurus. Sedangkan, tugas akhir ini kan kamu sendiri yang urus. Battle-nya udah bukan sama orang lain lagi, melainkan (battle) sama diri sendiri."

"Kalau urusan interface bisa lah paling alokasiin 3 jam. Kalau urusan coding yang serius, itu sih 6 jam ga cukup."

"Sebenarnya total jam kamu nge-asisten paling 2-3 hari aja. Sisanya banyak waktu yang bisa dipake. Nah yang perlu kamu lakukan itu adalah memanfaatkan waktu-waktu jeda itu. Entah untuk nonton tutorial, nyicil kerjain sesuatu, dan lain-lain."

----

Dalam sekejap semua terasa jelas, bahwasanya apa yang aku tulis di artikel tempo hari udah terprediksi siapa lawanku sebenarnya, apa yang harus segera kulakukan, dan lagi, perlu adjusting lagi soal manajemen waktu dengan pola kegiatan yang berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Benar juga bahwa apa yang perlu kita lakukan itu adalah segera bertindak. Tapi di satu sisi aku punya pikiran bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan ada hal yang dikorbankan. Entah pengorbanan kecil atau besar, rugi fisik atau materiil, kehilangan satu atau sepersekian, aku yakin tetap ada pilihan terbaik dan keputusan bijak yang akan diambil. Mengingat istilah silver lining, akan selalu ada hal baik di samping hal-hal kurang menyenangkan.

Walau ku berada di lampu merah

Kuyakin, semua ini hanyalah hambatan sementara

Semua ini hanya hambatan sementara. Kalau lampu sudah hijau, saatnya gas sekencangnya!