Gimana kalau ternyata bayang-bayang tentang takut gagal itu muncul lagi?
Aku tidak cukup akrab dengan seleksi atau ujian kualifikasi. Terlebih selama 19 tahun, sejak SD hingga kuliah, aku berada di lingkungan yang cukup mengenal bagaimana latar belakangku, sehingga mudah untuk mendapatkan privilege. Misalkan gagal dalam suatu seleksi, aku merasa tenang (dan ditenangkan) karena pasti ada backup. Ungkapan senada, “Udahlah ke tempat Abimu aja daripada susah-susah,” adalah salah satu contoh yang paling sering kudengar baik dari kenalan, orang terdekatku, hingga beliau yang berkaitan langsung. “Ini apa ga ada yang mau dukung aku buat ngejar apa yang kumau kah?” pikirku. Sehingga aku merasa asing ketika dihadapkan dengan situasi harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu. **Ini menyebabkan aku takut terkena penolakan pada sesuatu hal yang orang tuaku tidak bisa mem-backupnya.
Secara umum, memang yang kupunya adalah salah satu contoh privilege dalam privilege. Inilah yang harus kusyukuri dengan sangat. Privilege pertama, akses pendidikan didukung penuh dari finansial hingga non-finansial. Di dalamnya, ada privilege keturunan dari orang berpengaruh di lingkungan tersebut. Kurang enak apa coba? Iya, enak banget alhamdulillah. Belum lagi kalau anaknya pandai, sering jadi jebolan lomba atau kegiatan dari mitra kampus. Ga bermaksud sombong, tapi ya realitanya gitu. Konsekuensinya tetap harus bersikap baik demi menjaga nama bersama. Mata-mata ada di mana-mana, tidak bisa bertingkah sembarangan. Oh, ketidaknyamanan yang lain adalah saat orang lain yang memperlakukanku berbeda (lebih diistimewakan) hanya karena aku anak dari orang yang ia hormati. Heuh, kapan ya aku bisa tau cara membedakan orang yang tulus dan hanya formalitas… (maaf trust issue).
Mungkin sekarang tiba saatnya aku harus merasa takut sekali lagi setelah yang terakhir adalah empat atau lima tahunan lalu pasca menerima layar merah di pengumuman UTBK. Rasanya belum sepenuhnya sembuh ketika aku harus menerima kenyataan, “oke kayaknya emang aku enggak pantas kuliah di sana dan harus berakhir lagi di tempat Bapakku.” Kadang aku merasa frustasi, kapan ya aku bisa membuktikan diri bahwa aku bisa lepas dari lingkungan yang familiar itu? Tidak jarang pula aku memandang rendah diriku yang rasanya selalu kurang dari standar. Akhirnya aku mencoba untuk “menyembuhkan” respons setelah penolakan itu dengan mengikuti ragam seleksi lagi pada kegiatan-kegiatan seperti lomba-lomba, asisten praktikum, MSIB, hingga kegiatan yang bukan-aku-banget yakni menulis sebagai bagian aktivasi dari sebuah festival musik Jogja, Cherrypop 2024. Alhamdulillah sukses semua kecuali yang lomba.
Sekarang, aku menghadapi tantangan yang baru lagi. Aku berencana lanjut S2, di mana hanya ada dua pilihan: antara harus di Jogja atau kalau mau keluar ya harus beasiswa ke luar negeri. Kesempatan datang buatku untuk akhirnya bisa “lepas” dari environment yang begitu-begitu aja. Tapi ya itu tadi, sebelum benar-benar lepas, ada beberapa tantangan yang harus dilewati:
- harus punya skor IELTS yang sesuai kualifikasi jurusan yang diinginkan,
- harus lolos kampusnya dulu,
- harus dapat beasiswa fully funded,
- harus dapat VISA, dan
- harus dapat tempat tinggal selama di sana
Per hari tulisan ini dibuat, aku alhamdulillah sudah berhasil untuk dapat LoA Conditional dari kampus yang aku inginkan. Masih conditional tandanya belum official diterima karena ada syarat yang belum terpenuhi, di kasusku ya IELTS itu tadi. Inilah sumber kekhawatiran dan what ifs ku belakangan ini. Aku takut untuk patah hati lagi dan jadi suuzon kalau Allah lebih berpihak ke orang tuaku yang ingin menahanku agar enggak pergi ke mana-mana. Astagfirullah33x, pikiran jelek. Beneran deh, aku khawatir kalau memang ternyata doaku kalah kuat.
Pikiran ini muncul karena sejak dulu polanya selalu gitu.
Disuruh ke tempat Abi/yang dekat-dekat→ Mencoba lari dari situ karena pengen membuktikan diri→ Gagal → Mau tidak mau harus kembali nurut ke step pertama. Kapan aku mandirinya kalau begini? Dan yang paling menyedihkan, orang tuaku tidak mengenal ampun dan toleransi pada kata gagal dan berhenti. Tidak ada puk-puk atau upaya penenangan hati yang lain. Yang ada hanya sebaliknya, dicecar pertanyaan menyudutkan. Kenapa kemarin ga belajar? / Salah siapa kemarin ga fokus, jadi jelek kan nilainya? / Kamu sih, dibilangin dari kemarin harus fokus fokus fokus tapi malah melipir ke mana-mana, masih aja sibuk organisasian... Udah, keluar aja! / Abi pasti marah tuh kalau tau nilaimu jelek. Ujung-ujungnya ya mengurung diri lagi di kamar seminggu. Keluar kamar hanya jika lapar, itu pun kalau tidak malas. Rasanya kayak bersalah banget soalnya.
Jadi besok kalau memang tidak diterima di tempat yang diinginkan, ya udah cari tempat lain sampai dapat. Kalau memang ga berhasil juga, udah ikut aja apa kata orang tua. Bisa dibilang memang tidak ada jeda untuk sedih sebentar atau berkeluh kesah.
Mungkin aku mulai merasa suntuk karena hampir dua dekade tertahan di bawah bayang-bayang orang tua, padahal aku sendiri juga ingin memiliki legacy sendiri, minimal bisa kuliah di tempat yang jauh lebih bagus daripada tempat di mana Bapakku bekerja. Mungkin juga ini saatnya aku berusaha jauh lebih ekstra daripada yang biasanya. Mungkin juga sebenarnya ini battle antara diriku sendiri, bukan dengan kehendak orang tua. Mungkin juga sebenarnya aku sedang diuji seberapa besar tekad dan niatnya untuk “kabur” dan mencari penghidupan yang “lebih layak”. Mungkin memang orang tuaku bukan menakut-nakuti agar tidak pergi ke mana-mana, melainkan menantang aku bisa seberani apa.
Tapi dari sini, aku jadi mengidentifikasi sesuatu. Sepertinya memang tidak semua jenis seleksi harus kuikuti. Sepertinya aku jauh lebih willingly berusaha ekstra untuk sesuatu yang memang bisa aku kejar. Atau mudahnya, aku jauh lebih ikhlas berproses mengejar sesuatu yang sesuai dengan profiling kandidat yang dicari. Sedangkan di dimensi lainnya, ada tangan-tangan ajaib yang menolongku sampai ke tujuan entah bagaimana caranya. Di atas segalanya tentu ada daya dari Yang Maha Kuasa.
Konsep ikhtiar dan tawakkal telah kupelajari sejak pertama mengenal istilahnya saat SD. Sebuah ilmu hidup yang terus terbarui maknanya sampai akhir hayat. Bahkan dari lima langkah yang kutulis tadi, sebagiannya ada yang sudah memasuki masa tawakkal. Ehm, tidak. Tawakkal sudah sepatutnya dilakukan sejak pertama kali mencanangkan niat untuk memulai kegiatan. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la haula wala quwwata illa billah. Kan gitu doanya? Jadi, untuk apapun yang sedang kuusahakan, aku selalu berusaha buat melibatkan Allah. Juga berusaha agar tidak terpeleset lagi setelah diberi berbagai macam kesempatan untuk berusaha ekstra.
Dan mungkin kalau aku gagal lagi, itu gapapa. Mungkin akan terasa sakit karena agaknya ga pernah berhasil pada setiap yang diusahakan. Mungkin memang aku tidak boleh jauh dari orang rumah. Tapi, setidaknya aku pernah seberani ini untuk mencoba. Dan tentu akan jauh lebih bangga lagi kalau ternyata aku berhasil. Hehe.
Yogyakarta, 18 Mei 2025
sedang kalut di kafe lucu
bersama segelas banana latte di siang hari
dilanjutkan red velvet agak sorean

1 Comments
Mau banana lattenya donk ~
BalasHapusPosting Komentar