Seperti subjudul blog, bersama tulisan ini aku akan mendokumentasikan sebagian cerita hidupku dalam bentuk tulisan. Kali ini, aku mau bercerita tentang tiga bulan pengalamanku belajar langsung tentang ekosistem musik skena Jogja. Dengan jalur magang, aku "terdampar" di dunia yang tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Normies masuk ke skena, kataku. Tapi kata mentorku di hari terakhir magang, 

What you see is what you'll get. Kamu bisa ke sini kan karena kamu yang ngejar kesempatan itu.

───── ⑅ ♡ ⑅  ─────

Mukadimah

Sebelum Juni adalah masa-masa di mana aku ambis seperti fresh graduate pada umumnya. Cari kerja dan/atau kuliahan buat lanjut studi. Di antara energi itu, entah kenapa aku merasa kosong. Fisikku mengerti kalau aku ajak dia ke tujuan baru: dapat pekerjaan atau S2. Tapi ada yang mengganjal di hati karena aku belum ketemu "why"-nya apa. Sedangkan aku enggak pernah memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan dan alasan kuat kenapa aku harus di sana. Terdengar sedikit arogan dan idealis memang, dan ya... kuakui aku lambat dalam mencari dan menemukan jawabannya (alhamdulillah sekarang udah mulai lebih settle). Kabar tentang paragraf ini sudah kuabadikan di postingan bulan Mei. 

Saat sedang scroll Instagram, aku menemukan oprec magang dari sebuah festival yang di mana bisa dibilang mengubah hidupku 180 derajat per 2024. Terdengar berlebihan, tapi kejadian itulah yang membawaku sampai diterima sebagai writer di Swasembada Kreasi, promotor dari Cherrypop Festival. Awalnya aku enggak ada ekspektasi apa-apa karena posisinya sedang menunggu kepastian beasiswa S2-ku waktu itu. Niatnya ingin mengisi waktu luang dengan mempertajam skill kepenulisan. Kalau aku lolos beasiswa, berarti kelanjutan seleksi magang kustop aja. Rezekinya, ternyata aku diberi kesempatan jadi bagian dari kekalceran jalur ketik-mengetik. 

Oke, ini udah kayak di luar nature-ku banget. Secara akademik, latar belakangku adalah IT. Tulis-menulis biasanya hanya untuk hobi aja, apalagi ilmu jurnalistik... Beh aku kosong banget soal pengetahuan tentangnya selain dasar-dasar 5W 1H. Secara lingkungan, aku datang dari keluarga strict parent dan ya..... sebutlah agamais.... Buat yang ngerti gimana aku di real life mungkin paham apa keresahanku. Cuma satu yang bisa menyatukan: selera musik (ya itu sih memang dunianya mereka).

Adaptasi

Bisa dibilang, rasa skeptis untuk bertahan di skena tuh muncul setiap hari di bulan pertama magang. Ibarat kata aku tuh outsider yang selalu hidup dalam keteraturan sistem tiba-tiba datang di dunia penuh kebebasan dalam berekspresi, jalur alternatif, dan kerjaannya diwarnai spirit merintis. Ada ga ada modal, ada ga ada sponsor, selama ada 1-2 orang yang setuju dan mau bantu merealisasikan "ide-ide gila", ayo kita nekat wujudin itu.

Jadilah ragam rangkaian yang disebut sama mentorku, Bang Kiki Pea, sebagai "kerja-kerja kebudayaan". Hahaha bisa banget kubayangin beliau ngomong gitu sambil ngisep cerutunya terus nyengir jail. Contoh paling konkret di tahun ini: bikin majalah musik! Di tengah megap-megapnya buku fisik, malah Cherrypop mau ngisi gap di situ dengan bikin majalah. Namanya Helopop!, ga disangka animo masyarakat tinggi juga: cetakan pertama sebanyak 100 eksemplar pertama ludes terjual. Alhamdulillah.



Tugas formalku adalah m e n u l i s. Yap, tiap hari (ga tiap hari juga sih) menulis. Entah itu press release, notula diskusi, sampai feature dari rangkaian acara Cherrypop. Belajar jadi jurnalis gitu, sesekali wawancara buat nyari insight baru (meski seringnya ngandelin transkrip audio dari anak divisi Media Sosial), dan mencatat peristiwa apapun pakai tulisan. Itulah kuncinya, "merekam peristiwa". Selain tugas utamaku tadi, aku pun ikut mengurus website Cherrypop. Yah, itung-itung melaksanakan tanggung jawab keilmuan. Toh, selama diberi akses dan kepercayaan dari Bang Kiki, aku ga keberatan. 

Tiga Bulan Paling Nyeni

Selain menulis dan maintenance website, aku dilibatkan dalam pre event Cherrypop seperti Tur Pemutaran Film dan Diskusi Rekam Skena serta kelas-kelas workshop Pena Skena. Selain memanfaatkan skill bawaan sejak jadi Sekum IPM untuk ngurus database dan hal-hal administratif lainnya, aku belajar berjejaring di sini. Akhirnya bisa kenal orang-orang keren seperti sineas Bang Kiki Mansur (kikiretake) selaku Program Program Manager Rekam Skena dan Bang Britto Wirajati, dosen ISI Surakarta yang menghandle program Pena Skena.

Mungkin kalau ga ikut ini, aku ga akan pernah ada alasan buat ke tempat-tempat nyeni seperti Milli Sayidan (markasnya Shaggydog), Omah Jayeng (milik sutradara Garin Nugroho), dan galeri kolektif Loka Carita Nasraya. Mungkin aku juga ga akan sampai di titik bisa "cees"-an dengan "coklat" alias "cowo Klaten" The Jeblogs, terutama Mas Ryan, Mas Dani, dan Mas Amir. Mungkin juga aku ga kenal sama teman-teman Pena Skena dengan ragam latar belakang dan asal yang sekarang jadi kawan nongkrong kalo main di On The Pop, kafe plus kantornya Swasembada Kreasi. 

 


Skena yang "beneran skena"

Bicara soal skena, ternyata "skena" ga melulu soal outfit atau band underrated. Aku jadi mengerti gimana keadaan skena yang betul-betul arus pinggir dan hidup bersama spirit DIY (do it yourself)-nya. Dan entah kenapa aku merasa "benar-benar jadi orang Jogja" karena sedikit-banyak bisa menembus ruang-ruang diskusi alternatif yang membicarakan progresivitas ben-benan dan kultur seni di Jogja-Banyumasan. Namun, konsekuensinya adalah otakku perlu penyesuaian untuk memahami alur pikir orang-orang di balik skena tadi yang tentu saja berbeda dengan normies pada umumnya. Berbeda di sini ga bermaksud eksklusif ya, aku bicara apa adanya aja bahwa mereka memang mengambil persimpangan jalan yang tidak umum.

Rangkaian kegiatan dan kesibukanku selama tiga bulan terakhir membawaku pada wawasan baru tentang dunia lewat jalur permusikan yang ternyata ada ekosistem besar di baliknya. Ga melulu tentang penyanyi hingga grup instrumen alat musik, ekosistem permusikan rupanya lebih luas dari itu. Misalnya: desain dan visual untuk ilustrasi album art, ekonomi lewat jalur merchandising, printing, dan stand jualan di festival, hingga jurnalistik untuk publikasi/amplifikasi suara.


Jujur, aku bangga dan super excited terpapar dengan hal-hal baru yang menyenangkan juga rumit ini. Mana belajar langsung dari para pelaku skena: Bang Kiki Pea, Pak Arsita Pinandita, Pak Asob Ahmed, Mas Catur, Mas Bayu, Mas Agvs, Mas Fahri, Mas Zakki, Mas Fatih, Mas Pa'de, Mbak Ilmi, Mbak Sofia, Mbak Tina, dan stakeholder-stakeholder lainnya. Oh, tidak lupa para barista andalan On The Pop yang kalo bikin menu Catalina andalanku enaknya ga ketulungan: Mas Bejo, Mas Zufar, dan Mas Halim. Tentu saja referensi musikku juga jadi bertambah dan merasa "semakin kalcer" (HAHA). Mulai dari black metal, dub, reggae, techno, instrumental, hingga britpop seperti Oasis atau oldies ala Elvis dan Utha Likumahuwa. Byuh byuh...

Kehidupan di Skena tanpa Polisi Skena

Kultur kerja yang superrr santai dan fleksibel juga semakin membuatku senang untuk berkontribusi di sini. Lingkungan yang bisa dibilang inklusif ini rupanya mau menerimaku yang penampilan luarnya jauhhh dari stigma "skena" dan dunia nyeni kebanyakan. Tidak jarang aku berjilbab sendiri di sekerumunan orang-orang tiap event. Tidak pernah tidak memakai rok, dan bajuku selalu panjang.

Teman-teman seangkatan magangku pun menyenangkan dan suportif: Gisya si Punk Ngawi, Anin si partner shalatku, the gurrrlies Shelo dan Lintang, desainer palugada Arbi, dan Tenxi-nya Jogja alias Eza (hehe maaf Za, habisnya mirip banget). Selain itu ada Hizkia yang sempat kukira Islam dan Mas Ilham si layouter majalah paling satset sedunia.

Ceritanya Gisya sih yang paling memorable. Dia jadi tandemanku di divisi yang sama setelah partnerku yang seharusnya malah mengundurkan diri. Kami secara ga sengaja bertemu di event Cherrypop Goes To Campus di UIN. Karena aku butuh  tambahan orang, akhirnya aku mengajak si Gadis Ngawi ini. Seneng banget ternyata relasi dia juga luas mulai dari punk-punk-an sampai komunitas sepedanya. O, ya, dia juga dijuluki "De Ngawi's" oleh Bang Kiki. Meski sering kepo sama tindik di hidungnya, Gisya dengan keluguan ala maba-nya adalah partner terbaik selama di Swasembada.


Banyak first time experience yang kualami sejak bergabung di magang Swasembada Kreasi. Ngurusin majalah mulai dari konten sampe jadi seller online, masuk ke Green Room alias backstage, merasakan nonton penampilan dari semua sudut pandang: samping panggung, depan panggung, festival, dan FOH, hingga ngobrol sama Mas Farid Stevy rasanya biasa aja.

Aku juga belajar banyak tentang gimana promotor meng-handle acara segede Cherrypop kemarin. Apalagi basisnya memang jalinan pertemanan dan komunitas, aku makin menyadari bahwa sistem kolektif tuh bisa "saling mengangkat" nama dan memudahkan satu sama lain. Ini konsep kerja yang belum pernah kutemui di manapun. Sebuah privilege dan kesempatan emas sih buat aku yang biasa aja dan tanpa latar belakang kesenian ini bisa masuk ke sana.

Mengenal Diri Sendiri Jalur Kerja di Skena

Aku pun jadi lebih mengenal diri sendiri ketika di circumstance bekerja secara profesional. Asal diberi kepercayaan, ada instruksi dan goal yang jelas, akan kukerjakan semaksimal mungkin. Yang biasanya aku bekerja bersama teman-teman sebaya atau maksimal lima tahun lebih tua ini berasa menemukan angin segar saat bekerja bersama mas-mbak-bapak-ibu tadi.

Kadang ada bagian yang kerasa banget kerja bareng para orang tua, misal ketika mengatasi kegaptekan. Tapi selebihnya banyak wisdom yang kupetik. Meski penampilannya kadang garang kadang urakan, ga disangka mereka sangat family man. Anak-anaknya sering diajak ke kantor, bahkan nyaris jadi teman Roblox-ku. Istri-istrinya pun ga jarang ikut merawat ruangan-ruangan yang kami pakai untuk berkegiatan. Seru!


Titelnya memang magang, tapi realitanya bukan seperti bekerja, malah kurang lebih kayak prokeran kalau di organisasi (tentu dengan cara yang lebih serius dan rumit). Bahkan Bang Britto berkata begini waktu aku sempat sedikit patah hati: "Gapapa curhat aja. Kita kan saling kenal bukan hanya untuk kerja sama secara profesional, tapi untuk nambah teman dan relasi jangka panjang." Hiks terharu. Aku juga semakin paham dan familiar dengan sistem "kerja-kerja kebudayaan" yang memang tujuannya long run dengan keuntungan yang pastinya tidak instan. 

───── ⑅ ♡ ⑅  ─────

Kesempatan berdinamika selama tiga bulan paling clueless, menyenangkan, dan eksploratif ini membawaku pada keyakinan bahwa "ga mungkin semua ini ga ada artinya". Tentu selain ilmu aku mendapatkan satu modal kapital baru: jaringan.

Selain itu, keahlian dan insight dari teman-teman kolektif yang ternyata tidak pernah membosankan dan cukup aplikatif ini mungkin bisa kuadopsi di masa depan. Entah untuk apa dan di mana, yang kutahu ini bukanlah kesia-siaan dan tindakan wasting time. Justru aku sedang melakukan investasi, meski belum tahu "kekayaan" yang kupunya ini akan membawaku ke mana atau kepada apa.

Secara tidak langsung, aku seperti diberi jeda selama tiga bulan ini untuk merefleksikan "why" di paragraf pertama. Meski informal, pengalaman dan pelajaran yang kudapat selama di Swasembada seolah-olah meng-unlock lapisan hidupku yang lain. Mungkin memang tidak bisa kusebutkan secara gamblang di sini, intinya hatiku merasa penuh dan semakin berani buat melangkah lebih jauh lagi!

Ingat petuah Mas Yani di hari ketiga tur Rekam Skena, "masuk skena sekenanya saja!"


Yogyakarta, 9 September 2025
Ga mau bye-bye sama Cherrypop :(


Titip sebagian kecil dokumentasi yach :P

Pena Skena 2025!


Megatruh Soundsystem lagi latihan


Pasca Manifesto Jenny di ASRI

Fotbar Dhuta EXOX (The Skit)







Naspad sepiring bertiga, yang sono berlima


Melarisi UMKM alias sate langganan Cak Soleh


Doa bersama sebelum ontran-ontran


Sama Pak Dito, Art Director-nya Cherrypop


Motto skripsi sudah dilegalisir hehehe





Sama Pak Farid Stevy :D