Kegiatan belakangan yang cukup padat membuatku sulit untuk konsisten menulis. Termasuk tulisan tentang Ramadan yang baru diunggah nyaris dua bulan setelahnya. Tapi aku senang, karena aku masih melanggengkan kebiasaan menulis tentang Ramadan di blog ini. Coba saja manfaatkan fitur "Telusuri" di atas dan ketikkan "Ramadan" atau "Ramadhan". Pasti akan ditemukan beberapa entri yang menceritakan how's my Ramadan going. Agak malu juga kalau dibaca secara seksama, bahasanya alay banget dan ew... jujur aku sendiri aja enggak tahan bacanya hahaha. Terakhir aku menceritakan spesifik tentang Ramadan di tahun 2023. Dan kali ini, aku mau mengabadikan Ramadanku tahun 2025.
Selaras dengan visiku tahun ini untuk "kembali fokus mendengarkan keinginan diri sendiri", aku mencoba menerapkannya pertama kali di Ramadan kemarin. Tidak ada kata menyesal sedikitpun meski harus menepi sebentar dari kegiatan dan rutinitas yang biasanya. Justru hatiku menjadi penuh, puas, dan energiku seolah-olah terisi kembali. Bahkan dengan bangga aku mengatakan Ramadan 2025-ku going extra miles karena selama ini apa-apa yang mendekam di kepala bisa terealisasikan dengan apik!
Ramadan 2025 sengaja kuarahkan untuk mengabdi pada diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal. Pembandingnya hanyalah versi diriku di tahun-tahun lalu yang agaknya hanya mengikuti arus, tidak punya pendirian, sedangkan aku menyadari adanya suatu keharusan untuk tumbuh lebih baik lagi (seperti Nina). Meski terdengar klise dan basa-basi, tapi aku berani mengklaim bahwa inilah target paling ideal untuk dikejar di Ramadan: jadi lebih baik dari yang kemarin. Bahkan baru di tahun ini aku bisa memahami maksud ceramah ustadz-ustadz bahwa selain berpuasa, Ramadan itu waktu yang tepat untuk men-ta'dib (mendidik) diri sendiri.
Karena ada "misi" yang perlu dituntaskan, aku mengadopsi sistem project. Project kan ibaratnya kayak program yang dijalankan dalam rentang waktu tertentu dan ada targetnya. Namun untuk yang ini mulai dari konsep, eksekusi, hingga evaluasi dilakukan oleh diriku sendiri. Berat? Ya, jelas. Namun demi meninggalkan legacy untuk bahan renungan di masa mendatang, hal ini mau tidak mau harus kulakukan. Di dalam project tersebut ada dua sub kegiatan: 1) Upgrade keimanan dan  2) TPA beserta kegiatan-kegiatan di dalamnya. Semua berjalan paralel sepanjang Ramadan.

1) Upgrade keimanan

Ini sudah pasti menjadi target utama hampir setiap mukminin selama Ramadan, termasuk diriku. Metodeku untuk upgrade keimanan ini adalah dari sisi spiritual dan keilmuan. Implementasi caranya ada pada: Qur'an Journaling, 1 Day 1 Episode "Barzakh and Beyond" dari Yaqeen Institute, dan mendatangi majelis ilmu entah datang langsung ke masjid atau via online seperti sesi Ngaji for Non-Ngaji People dari Akal Indo.


Quran Journaling adalah kegiatan yang baru pertama kali kulakukan sepanjang hidup dan aktivitas yang paling kusuka sepanjang Ramadan. Dalam setiap pembacaan Qur'anku, ketika menemukan ayat yang menurutku menarik dari segi makna dan pelafalan aku akan menandainya. Di akhir sesi baca nanti akan kucari tafsirnya dan kutulis ringkasannya di buku notes paling besar yang kupunya. Disclaimer, aku mulai membaca Al-Qur'an di bulan ini dari juz 20 dan sudah ikhlas jika tidak akan khatam 30 juz (yah, alasan khas perempuan: kedatangan tamu bulanan dan aku menganut paham fiqih yang tidak membaca dan menyentuh Al-Qur'an saat sedang haid). Hasilnya, alhamdulillah ada 120 ayat+ ringkasan tafsiran favorit versiku Ramadan 1446 H.



Tahun ini juga kutargetkan untuk konsisten mengikuti series kajian yang dikeluarkan oleh Yaqeen Institute, dimoderatori oleh Ustadz Omar Suleiman membahas tentang alam barzakh. Menurutku pribadi, melalui kajian ini aku bisa memahami dengan logis mengapa kita harus melakukan ABCD di dunia sehingga berdampak pada kehidupan selanjutnya, tidak hanya sebatas "lakukan ini agar masuk surga, hindari ini agar tidak masuk neraka". Selain itu, aku juga berniat untuk meningkatkan skill listening-ku hehe... Ini link playlist-nya jika kamu ingin menontonnya juga.

Tentang kajian dari Akal Indo, jujur aja ini salah satu gamechanger-ku dalam memahami makna beribadah yang ternyata lebih dari sekadar praktik ritual saja, melainkan aktivitas duniawi seperti bekerja pun termasuk ibadah. Orang-orang di balik Akal Indo menurutku cukup keren sih. Mereka bisa merefleksikan pemahaman ilmu agama sesuai dengan background keilmuan dan pekerjaan masing-masing (mereka orang-orang startup gitu). Sehingga ilmu-ilmu spiritualnya bisa lebih relatable untuk diterima manusia-manusia modern dan hustle culture. Bagian paling menarik dari kajiannya Akal Indo adalah sumber-sumber yang digunakan tidak hanya berasal dari dalil naqli saja, melainkan aqli seperti data, buku, jurnal, penelitian, itu dimasukkan semua untuk menunjang penjelasan. Rasanya ingin kutulis dalam section terpisah karena saking dagingnya.

2) Masjidku full anak-anak!

Hal kedua yang paling kusuka adalah masjidku ramai lagi dengan anak-anak TPA. Yaa memang udah lumrah setiap Ramadan sih, tapi entah kenapa yang sekarang jauh lebih menyenangkan. Sedari awal, aku enggak ada ekspektasi apa-apa ke program Ramadan di TPA tahun ini. Yang kutau, aku cuma ingin melakukan sesuatu yang sedari dulu mengendap di kepala. Beberapa inovasi untuk tahun ini adalah:
a. koordinasi jelas antara aku dan teman-teman asrama sebagai pengajar,
b. buku materi yang dipisah sesuai umur, 
c. sistem peserta yang perlu registrasi di awal sebelum Ramadan, dan 
d. untuk pertama kalinya setelah 7 tahun berlalu, kegiatan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa; semacam pesantren kilat) diadakan lagi! 

Yang lebih senangnya lagi, aku merasa TPA dan Ramadanku kali ini jauh lebih ringan karena adanya kontribusi RISMANI (remaja masjid) berhasil kugerakkan setelah vakum 7 tahun tadi. Meski banyak wajah-wajah baru, tapi ternyata antusiasmenya enggak kalah untuk ukuran pertama kali comeback.  Kegiatan TPA, MABIT, distribusi zakat, dan takbiran berhasil kami eksekusi. Tentu kalau tidak dibantu dengan senior-senior yang masih tersisa di sini, kami tidak akan ke mana-mana dan akhirnya melempem terus entah sampai kapan. Jujur aku merasa optimis akan ada hal baik yang datang dalam waktu dekat kalau begini caranya. Semoga setelah ini akan ada kegiatan-kegiatan lain yang bisa kami gerakkan dalam rangka memakmurkan masjid!









Insights

Melihat apa yang terjadi di Ramadan kemarin, selama 30 hari aku belajar untuk:
  1. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang secara bersamaan. Yang bisa dilakukan adalah berbuat adil.
  2. Ilmu Allah itu luas, meliputi ilmu agama dan dunia. Maka datangi majelis ilmu dan ikatlah intisarinya dengan tulisan
  3. Nekat itu harus, dengan syarat punya rencana utama dan cadangan
  4. Setiap manusia itu unik, maka jangan disamaratakan
  5. Jangan ragu kalau ternyata ada yang meyakinkanmu
  6. Sisakan ruang untuk sedih dan kecewa
  7. Maksimalkan peluang dan potensi
Enam poin di atas tidak akan kudapat kalau seandainya aku takut untuk memulai. Untuk merintis legacy yang bisa bertahan dan dilanjutkan di masa mendatang, agaknya memang dibutuhkan kemauan untuk berkorban lebih besar daripada biasanya. Entah legacy untuk diriku sendiri atau lingkungan sekitarku, semua sama-sama harus dilandasi niat yang kuat. Dan asli, sekali lagi Ramadan 1446 kujadikan semacam refreshing dari rutinitas dan efeknya kayak ada kepuasan tersendiri karena berhasil merealisasikan angan-angan sesak yang memenuhi kepala. Last, aku tutup dengan kalimat:

Kalau ga ada yang bisa diajak bareng, ya udah sendirian juga gapapa!


Sampai jumpa di catatan Ramadan 1447! Kira-kira catatan Ramadanku tahun depan ada cerita apa ya?



Yogyakarta, 2 Mei 2025
Selamat Hardiknas