Akhirnya aku bisa menceritakan bagian ini, menamatkan final boss perkuliahan: Skripsi! 

Ini adalah fase yang ga bisa kubayangin sebelumnya tercapai dalam waktu yang singkat dan less drama. Ga singkat juga sih, lebih ke cepat daripada yang normalnya (setahun full). Jika dihitung dari sempro kemarin, aku berhasil menyelesaikan skripsi dalam waktu 10 bulan 26 hari. Membanggakan buatku sih, tapi tidak cukup membanggakan karena aku gagal dalam memprediksi kapan harus mulai ini-itu sehingga bisa diwisuda kemarin Agustus. Bangga, tapi ga sebangga itu, paham ga sih. Tapi kurasa ga ada skripsi yang ga ada dramanya. Mungkin bagiku less drama itu bagian yang berurusan sama pihak kampus/dosennya. Tapi such a big drama ketika aku "bertarung" dengan yang ada di rumah. Sebelum artikel ini, aku sudah menulis dua seri Magnum Opus lainnya di blog ini. Klik kalimat ini untuk membaca Magnum Opus bagian 1, dan ini untuk Magnum Opus bagian 2. Di sini, aku mau ceritakan bagian ketiga yang mana dimulai di hari-H pendadaran. 

Katanya pendadaran tuh menyeramkan. Aku tersugesti dengan kalimat itu karena rasanya penelitianku masih cukup dasar, tidak kuat, dan jelek. Jadi di bayanganku sidang pendadaran itu tempat di mana aku terduduk sendiri dan merasa kelu untuk sekadar berbicara karena merasa tidak menguasai materi. Aku memosisikan perasaanku untuk legowo akibat fakta bahwa tidak bisa mengikuti wisuda Agustus (haha maaf aku banyak banget mention soal ini). Jadi meski sudah terburu-buru dari kemarin dan tidak memenuhi target, mau tidak mau aku tetap harus pendadaran dan mempertaruhkan penelitianku di durasi yang ga sampai setengah hari itu. Iya, setahun (atau lebih) penelitianmu itu diuji di pendadaran yang maksimal diselenggarakan 2 jam. Karena tidak mau terkesan tidak siap, akhirnya aku memutuskan maksimal sudah sampai kampus setengah jam sebelum ujian.

Bersyukur sekali ada temanku, teman sekolah dulu, yang menemani dari awal persiapan sampai sesi selebrasi kecil-kecilan. Namanya Nabila, tapi aku dan teman-teman sering memanggilnya "Napek". Entahlah kayaknya kalau enggak ada Napek, mungkin aku agak linglung dan super deg-degan. Napek membantuku yang sudah buyar fokusnya untuk berpikir hal-hal teknis namun penting. Misal ketika mempersiapkan ruangan, mengecek kabel HDMI, file presentasi, dan yang terpenting make sure aku kembali fokus. Tapi ada suatu kesempatan yang bikin aku kepikiran sampai cerita ini terpublish: Napek nyeletuk "Kok kamu ga beli selempang ala-ala itu...". HEHE jujur aku ga kepikiran. Kepikiran sih, tapi ga lekas membeli karena aku merasa agak malu kalau seandainya udah selebrasi kemana-mana tapi belum official lulus. Padahal gapapa juga kan? Dan pasti akan lulus kan? Namun karena kelamaan mikir, ga kerasa udah hari-H pendadaran, akhirnya ga kebeli juga deh itu selempang. 

Ini si Napek :D
Pengujiku ada dua: Bu Miftah dan Bu Anna. Di sini aku baru menyadari bahwa perkataan orang di Twitter "you attract what you fear" beneran valid. Jujur sejak sebelum mendaftar ujian, aku takut dapat dosen penguji Bu Anna karena katanya killer dan sangat teliti. Eh waktu jadwalnya keluar, malah kebeneran dapat beliau sebagai Penguji 2! 😭 Tapi gapapa hari itu aku agak lega. Harusnya semua teknis pendadaran itu dilaksanakan secara luring, tapi Bu Anna berhalangan sehingga beliau mengikuti via Google Meet. Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 WIB, tandanya pendadaranku dimulai! Ternyata kegiatan pendadaran itu "hanya" seputar presentasi dan tanya jawab. Presentasi pun tidak perlu lama-lama, karena apa yang dijelaskan sudah tercantum di naskah skripsi sehingga aku hanya menyampaikan garis besar penelitianku saja. Toh kalau dari pengalamanku, presentasi enggak terlalu diperhatikan, justru naskahnya yang banyak diulik.

Sejujurnya aku sudah memprediksi karakteristik pertanyaan apa yang akan dilontarkan penguji atas bantuan cerita-cerita kakak tingkat terdahulu dan video TikTok kiriman temanku yang sudah pendadaran lebih dulu. Tips dari mereka pun manjur: asalkan skripsi dikerjakan sendiri, pasti bisa jawab pertanyaan-pertanyaan penguji. Dari sini aku merasa sudah memegang kunci: skripsi dikerjakan sendiri. Benar saja, pertanyaan penguji lebih banyak mengarah ke "mengapa" daripada sekadar "apa". Mengapa pakai data itu, mengapa jumlah datanya sekian, mengapa menggunakan konsep itu, dan mengapa-mengapa lainnya. Sebagian besar jawabanku memuaskan penguji, namun ada juga yang malah berujung ke cabang pertanyaan yang berakhir menjadi revisi tambahan. Durasi pendadaranku pun agak molor setengah jam... jadi ya bisa dibilang ada kelebihan waktu dari ujianku.

Foto bersama Bu Miftah (Penguji 1) dan Bu Dewi (Pembimbingku)

Daftar revisi yang kudapat sedikit dari segi kepenulisan, namun sangat banyak dari segi evaluasi sistem. Skripsiku menerapkan finetuning dari model Deep Learning yang dikombinasikan dengan sistem tanya jawab berbasis NLP (Natural Language Processing). Seperti yang diketahui, melatih (training) model machine learning dan deep learning memakan waktu yang agak lama (tergantung banyak data). Udah gitu, hasil model yang sudah dilatih menghabiskan sekurang-kurangnya 2 GB yang jelas akan memakan sebagian besar kapasitas memoriku. Di dunia machine learning dan deep learning, ada sebuah platform daring milik Google yang umum dipakai untuk menjalankan kode khususnya berbahasa Python. Namanya Google Colaboratory. Nah tentu ada batasan-batasan bagi pengguna gratisan sepertiku. Misal durasi koneksi terminal, RAM yang digunakan, dan lain-lain. Untuk mengakali keterbatasan tersebut, aku perlu sekitar 3 akun Google Drive untuk menuntaskan training model deep learning yang kubuat. Sebenarnya data yang kupunya tidak bisa dibilang banyak, tapi cukup ngeri jika diminta revisi dengan tambahan analisis hasil melatih data sebanyak lima kali dengan lima buah variasi. Awalnya kaget karena tentu akan menghabiskan sekitar 10GB hanya untuk menambah hasil analisis naskahku. Tapi ya sudahlah tetap dikerjakan agar aku juga mengerti bagian mana yang masih kurang dari penelitianku.

Singkat cerita, selepas pendadaran, aku menemui teman-temanku di luar ruangan yang sudah repot-repot datang dari jauh sembari membawa bingkisan. Ada fresh flower, jajanan, buket balon bunga, dan lain-lain. Yang terlucu ada hadiah buku TTS sih, wkwkwk. Terima kasih ya, maaf sudah merepotkan... Hatiku sangat penuh karena sambutan dan ucapan teman-teman baik secara langsung maupun via IG Story, serta lega karena berhasil menuntaskan magnum opus pertamaku. Segala agenda begadang, pergi ke coffeeshop, duduk di perpustakaan kampus, dan menghabiskan waktu di laboratorium Sistem Cerdas yang disengaja demi mengejar gelar itu agaknya bisa terbayar lunas dengan tidur yang cukup panjang selepas jam 21.00. 


Sebagai pungkasan, ternyata pendadaran tidak seseram yang kusangka. Perasaan setelah pendadaran tuh malah lebih ke, "oalah, gini doang?". Tapi tentu tidak mengabaikan bagaimana susah dan senang semenjak seminar proposal hingga mempertanggungjawabkan hasil penelitian ke penguji. Saatnya tinggal revisian, meminta tanda tangan pihak-pihak kampus, menuntaskan administrasi, dan merayakan tuntasnya empat tahun berkuliah.

Berbicara tentang perayaan setelah kuliah, aku berencana untuk pergi ke sebuah festival musik yang mendatangkan berbagai macam artis lokal yang sekarang menghuni playlist nugas dan momen-momen berkuliahku. Cherrypop Festival 2024 namanya. Sejujurnya aku ingin menceritakan detail tentang perayaan yang kumaksud di blog ini. Namun ternyata ada platform yang memilih ceritaku diunggah di  website mereka. Pophariini, sebuah media daring populer yang membahas soal musik dan sebagainya memuat tulisan tentang perayaanku itu. Jadi kurasa di tulisan berikutnya aku akan menceritakan background story tulisanku bisa dimuat di situs bergengsi sekelas Pophariini. Setelah postingan tersebut diunggah di medsos PHI, jujur, jangan ditanya perasaanku gimana. Karena perayaan yang rencananya ingin kurayakan sendiri malah berujung turut dirayakan ribuan orang... Terima kasih atas segala apresiasinya! Silakan baca tulisanku di web PHI dengan mengklik tulisan ini. Sekian, seri Magnum Opus telah tuntas di sini :D