Udah lama banget ga update blog ini, agaknya sedikit berdebu. Biar ada sentuhan baru, coba deh aku sekarang mau menuangkan uneg-uneg yang berhubungan dengan relationship 👀 Kebetulan ada sesuatu yang perlu diluapkan, sehingga siang tadi sebelum mengambil toga wisuda aku sempatkan untuk nongkrong di Couvee Taman Siswa. Sembari menyeruput caramel macchiato-nya yang enggak ada duanya itu, lahirlah tulisan ini...
Intro
Beberapa hari ini aku lagi terganggu sama pikiran tentang relationship pertemanan. Terlebih setelah aku mendapat jawaban dari pertanyaanku kepada seseorang (setelahnya kita sebut sebagai Apel aja ya), “apa yang common di antara kita nyampe bisa sedekat ini?”. Waktu itu dia menjawab kalau ternyata aku orang yang asik dan bercandaannya nyambung. Mungkin kalau konteksnya pertemanan antara sesama perempuan aku enggak punya pikiran aneh-aneh ya. Ga ada dugaan lain selain murni ingin berteman. Tapi buatku pribadi ada masalah ketika ini terjadi di antara hubungan lawan jenis. Entah karena terpengaruh kehidupan standar media sosial atau gimana, tapi yang jelas ada perasaan enggak beres (takut, cemas, khawatir, dan sejenisnya).
Setelah perbincangan dengan Apel yang menurutku agak deep, muncul di FYP ada random guy memberikan sudut pandang baru tentang interaksi lawan jenis. He said kalau misal dia being nice, intens ngobrol, ngirim reels, dlsb itu karena dia merasa “se-vibe”. This random guy secara ga langsung menawarkan perspektif baru “if we vibe, we vibe”. Ya simply karena nyambung aja. Urusan gimana lanjutannya kita lihat nanti, gitu katanya. Spontan (uhuy) aku merasa relate karena jenis interaksi ini juga yang terjadi antara aku dan Apel. Senada juga dengan alasan yang dia bilang ke aku bahwa “karena kamu orangnya asyik, jokesnya nyambung, jadi aku ga mikir kalau tiba-tiba ngabarin, tiba-tiba ngirim foto, dll”. Malah akhirnya dia yang minta maaf ke aku karena udah bikin aku mikir aneh-aneh.
Mulai Sadar
Di sini aku jadi merenung dan berpikir bahwa ternyata ada ya orang yang kaya gitu. Yang bisa tiba-tiba ngabarin, tiba-tiba update sesuatu padahal ga diminta, tiba-tiba ngasih wejangan, tiba-tiba flirty 👀, dan lain-lain dengan alasan yang disebut random guy tadi “if we vibe, we vibe”. Mungkin aku merasa kaget karena interaksi dengan lawan jenis sebelumnya tidak seintens dan seakrab ini. Biasanya aku yang excited sendiri, sekarang malah nemu partner yang bisa melakukan hal yang timbal-balik (dan sekarang malah kuberi jarak dengan alasan aku trust issue). Biasanya yang ketemunya karena partner organisasi, ngobrolnya hanya seputar organisasi dan tiba-tiba ngilang ketika sudah selesai periodesasinya (meski beberapa saling sharing jokes karena ngerti kalau sefrekuensi jokesnya). Baru kali ini dapet yang ketemu di organisasi, bisa sharing seputar daily life, sampai ngabarin tiap detail kerjaan yang dikerjain. Bahkan aku udah hafal jam berangkat dan pulang kerjanya...
Harusnya aku bersyukur punya orang yang se-vibe kayak si Apel. Karena mendapatkan orang yang cocok dengan vibe dan interest kita tuh jujur susah banget. Even aku di kuliah hanya nemu kurang dari 5 orang (itupun campuran kakak tingkat dan adik tingkat) yang bisa nyambung kuajak ngobrol tentang coding, Hindia, sampai perkara kehidupan. Meskipun kebanyakan mereka adalah perempuan, kalau atas nama pertemanan, untuk kasus yang ini (teman laki-laki) harusnya aku juga bersikap untuk biasa aja ga sih? Let the things go kayak apa yang kulakukan ke teman-temanku itu tadi.
Mungkin kemarin salah paham, aku kebanyakan mengonsumsi konten sehingga menganggap semua interaksi “agak lain” yang diberikan lawan jenis selalu mengarah ke romansa, padahal siapa tau murni karena “if we vibe, we vibe” tadi. Untuk hal ini aku juga pernah bilang ke dia sih, kalau aku mau detoks medsos (padahal ujung-ujungnya ga bisa wkwkw). Maksudku biar aku ga sibuk mikirin hal yang ga pasti ini. Terus kemarin pas konser CRSL 5 juga aku berasa ditampar sama liriknya Lomba Sihir di lagu Semua Orang Pernah Sakit Hati: “bahwa banyak hal yang harus dipikirkan selain cinta melulu”. Dan memang ga semua kudu mengarah ke romansa, kan?
Beberapa Kilas Balik
Setelah perenungan hari ini, aku merasa menyalahi prinsipku sejak awal tentang relationship. Aku pernah menanamkan pada diriku sendiri batasan-batasan berinteraksi dengan lawan jenis: enggak akan take it too serious sampai ada suatu statement resmi tentang hubungan yang sedang dijalani. Sedangkan polaku yang kemarin cenderung terlalu cepat menyimpulkan hal yang sedang terjadi sampai lupa bahwa ini masih termasuk murni pertemanan aja. Huft. Entah, sepertinya aku belum sembuh dari patah hati pertengahan tahun kemarin (iya masih baru banget) yang berkaitan juga dengan relationship. Bahkan dua kali secara berturut-turut. HAHA!
Cerita yang pertama, aku punya karib laki-laki yang berasal dari satu SD dan melanjutkan di yayasan sekolah menengah yang sama (meski terpisah). Kami berteman atas nama alumni SD yang sama. Sejak masuk ke sekolah menengah ini, hubungan pertemanan itu berlangsung hingga pertengahan tahun 2024. Selayaknya teman, kami kerap bertukar cerita tentang apapun. Kukira kami saling percaya, hingga sekitar Mei-Juni lalu tiba-tiba dia pasang foto perempuan di medsosnya. Yah ternyata cuma aku sendiri yang percaya ke dia. Padahal maksudku dengan pola pertemanan kami, kukira hubungan pertemanan ini dua arah dan berbagi kepercayaan. Minimal cerita dong kalau lagi PDKT ke seseorang, apalagi aku juga perempuan yang mana tau bisa dimintakan pendapat. Nah ketika aku tahu ada perempuan yang dia posting di medsosnya, seketika aku tahu diri dan memilih untuk mundur atas nama menghargai hubungan mereka. Kini kami juga jarang berkomunikasi. Aku tidak berminat untuk reply storynya juga.
Cerita yang kedua, aku punya kenalan yang dia adalah mahasiswa orang tuaku. Branding-nya cukup oke: hafidz Qur'an, agamais, aktivis organisasi, kuliah di dua tempat (double degree), usianya lebih tua, dan pastinya pinter. Aku sempat terkesima sama orang ini dan akhirnya punya akses untuk bertukar kabar lewat medsos. Namun komunikasi kami juga tidak seintens aku dengan si teman SD-ku itu sih, tapi ga yang bisa dibilang jarang. Namanya juga cuma pengagum, aku pun enggak kepikiran untuk menjalin komunikasi yang cukup dekat. Namanya juga cuma pengagum, pasti yang diketahui dan diekspektasikan hanya apa yang dia ketahui berdasar branding. "Ah ga mungkin lah dia pacaran, mungkin bakal langsung nikah," pikirku saat itu. Hehe ga taunya, sekitar tiga bulanan lalu aku mendapati dia posting perempuan juga di Instagramnya. Belum halal, karena ketika kutanya, penjelasan orang ini mbulet sampai aku menyimpulkan bahwa perempuan ini adalah support system-nya. Oalah moment terulang kembali, dan akhirnya aku tersadar kembali bahwa kayaknya emang selama ini aku excited sendirian. Di satu sisi aku juga jadi sadar bahwa people change itu nyata.
Menemukan Hipotesis
Memang menulis tuh bikin aliran pikiran jadi lancar dan runtut lagi. Setelah paragraf-paragraf di atas, beberapa kemungkinan mulai terdikte jelas di otakku:
- Mungkin aku terlalu takut kalau tiba-tiba memang ada intensi lain sehingga perlu segera dibikin jelas.
- Mungkin aku terlalu takut mengetahui fakta bahwa aku excited sendiri (lagi) dan berekspektasi terlalu tinggi seperti kejadian yang udah-udah.
- Mungkin aku yang terlalu awal menaruh rasa percaya berlebihan.
- Mungkin aku mengira bahwa aku adalah main character yang kisahnya berpotensi mirip seperti yang terjadi di dunia maya atau AU yang sering kubaca, deket bentar tau-tau jadian.
- Mungkin memang aku belum diizinin Allah buat coba-coba hal seperti ini sebelum waktunya
- Mungkin memang aku disuruh fokus menyelesaikan tantangan-tantangan dari orang tua dulu
Padahal aku tahu sendiri prinsipku enggak akan jadian kalau gaada intensi ke arah pernikahan. Padahal aku tahu sendiri bahwa aku masih takut untuk menjalin hubungan spesial terlebih usiaku masih 22 tahun (di mana aku mungkin baru mau mikir serius nikah umur 24).
Sekarang hubunganku dan Apel nggak seintens biasanya. Mungkin ini agak tiba-tiba di antara kami yang kalau dihitung sudah lumayan intens lima bulan terakhir (menurutku ya, enggak tau dia gimana). Yang biasanya bisa streak 1 minggu penuh tiap harinya ada bubble chat meski hanya sesingkat satu kali scroll, sekarang paling hanya 2-3 hari sekali. Jujur rasanya seperti ada yang hilang meski di awal aku menekankan pada diriku sendiri bahwa hadirnya dia bersifat adding di kehidupanku. Minimal usia kepala duaku ada rasa manis-manisnya deh, namun ga sepenuhnya menggantikan sumber kebahagiaan utama.
Seandainya aku ga se-chronically online itu, ga mudah mengumbar atau bercerita lebih banyak ke teman-teman sepercurhatanku, dan langsung mempercayai peringatan pertama dari seorang sumber terpercaya, mungkin aku ga akan terjebak dan akhirnya dengan PD-nya bertanya “Apa yang bikin kita bisa sedeket itu”. Menurut teman-temanku, katanya aku lagi mengalami HTS atau situationship. Menurut sumber terpercayaku, Apel emang sifatnya friendly, jadi katanya aku harus berhati-hati. Awalnya aku denial dan lebih cenderung ke sumber terpercayaku. Namun lambat laun aku jadi tertrigger dengan encouragement dari medsos bahwa “yaudah jalani hubungan sesuai dengan apa yang kamu rasa. kalau kamu rasa perlu bertanya sesuatu, tanyakanlah. kalau kamu rasa membutuhkan sesuatu, bilang aja,” Akhirnya aku menanyakan pertanyaan konyol seperti di atas (menyesal sedikit).
Tapi di satu sisi aku mikir kalau aku ga ngobrol atau bertanya ke orangnya, aku akan terus mencari ketika dia enggak memberi kabar barang sehari. “Kok ga ngabarin?” atau “Ini serius dia ga mau chat aku?” dan berimbas ketidakfokusan dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Aku menyiapkan waktu sampai aku merasa berani dan settle untuk menghadapi apapun jawaban dari Apel. Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban, aku merasa lega dan bersyukur, akhirnya bisa menegaskan boundaries. Tapi ternyata boundaries-nya begini, jadi ya aku juga harus terima sih meski masih terasa berat banget.
Outro
Aku senang Apel beneran menepati kata-katanya yang ingin sedikit menjaga jarak karena menangkap sinyal aku ga nyaman dengan model interaksi seperti ini. Aku juga senang ternyata meski jadi agak berjarak, hangat di tiap kalimatnya tetap sama (hiks kami lagi di beda kota jadi bisanya cuma via online). Yaaa semoga ga asing sepenuhnya aja sih, meski bisa jadi akan terjadi juga di hubungan kali ini. Hiks kalau beneran terjadi, berarti aku akan patah hati tiga kali dalam setahun ini... Dan akarnya ternyata ada di ekspektasiku yang ketinggian.
Pertanyaan selanjutnya yang harus dipecahkan: apa yang membuat ekspektasi bisa muncul berlebihan?

0 Comments
Posting Komentar