Sebetulnya, di draft masih mengantre tulisan-tulisan lain yang lebih layak untuk diunggah. Tapi, mengingat fungsi blog ini adalah sebagai pengarsip momen, biarkanlah kubercerita soal topik yang jarang kuangkat: tentang cinta dan kasih sayang. Mungkin karena pada akhirnya baru menemukan kesimpulannya hari ini(?). Oleh karena itu, kubukakan ruang yang sudah lebih rapih dan layak untuk disambangi sejenak. Yang sedari beberapa bulan terakhir tertutup tirai berlapis berjenis muram durja.

Sebuah fakta bahwa aku tidak pernah siap untuk menamakan peristiwa kali ini dengan label "cinta". Karena di bayanganku, "cinta" itu boleh dikatakan jika dua orang sudah terikat oleh suatu hubungan yang ada namanya, yang ada statusnya. Sedangkan kejadianku ini tidak pernah diberi nama, hanya dua orang yang saling menginvestasikan emosi dan kerentanan dirinya selama dua tahun terakhir. Namun, ikatan tanpa nama ini tidak bisa dibohongi keberadaannya. Sehingga tetap kunilai layak dan akan kuambil sebagai pengalaman (atau setidaknya refleksi caraku mengenal diri sendiri).

Saat ini, aku dan seorang laki-laki berada di hubungan yang sedang meraba sejauh mana bisa terus dilanjutkan sejak dua bulan yang lalu kami terkoneksi kembali. Apresiasi sebesar-besarnya untuk dia yang berinisiatif memulai lagi komunikasi. Delapan bulan yang lalu, kami sempat berkonflik karena hilangnya rasa hormatku padanya; ada kepercayaan yang ia hancurkan sendiri. Di tengah sendunya diriku berada di ambang keabu-abuan, sebuah tweet yang mengilhamiku menulis teks panjang ini lewat di linimasa.

Sial, di jam yang sangat rentan, 03.45 pagi, kali pertama caraku mencintai sesuatu divalidasi orang lain. Bukan aku yang meminta, hanya membaca pengalaman-pengalaman orang. Ternyata banyak juga yang memiliki pola pikir mirip denganku ketika sudah menyayangi sesuatu: akan all-in!


Penasaran dengan pikiran lain, kubuka satu-satu reply dan quotenya. Kalimat favoritku selanjutnya datang dari user @approtve. dia menulis seperti ini:

"Adalah aku. I’ve never regretted giving so much love to the people around me because I’m already a “full” person. If someone avoids me, rejects me, or whatever, it doesn’t matter. Bcs I can still give my love to someone who truly wants it & I also want to give it from the heart."

Sejauh prosesku mengenal apa itu cinta, ternyata semakin kusadari bahwa bentuknya bisa bermacam-macam; dan aku sudah melakukannya jauh sebelum aku mengenal laki-laki itu. Cinta ke keluarga, sahabat, bahkan teman-teman organisasi. Seperti tweet di atas, aku merasa saking lubernya sayangku ke mereka, aku rela membuat sesuatu yang personalized.

Bentuk ekspresinya aku tuangkan dalam sebuah karya, karena aku sangat pandir dalam berdialektika. Pernah aku membuatkan blog untuk Khalila, teman sebangku semasa sekolah, waktu dia ulang tahun. Kemudian untuk adikku, kubuatkan surat digital sebagai respons terhadap tingkah remajanya yang membuat geger orang rumah. Bahkan, mentang-mentang aku anak IT, kubuatkan prototype aplikasi mobile yang sebenarnya isinya adalah pesan penyemangat menjelang akhir periode untuk teman-teman di IPM Jogja. 

blog untuk khalila di usianya yang ke-19 tahun



prototype penyemangat akhir periode, dibuat di figma loh :D


Aku tidak pernah merasa rugi untuk se-effort itu, karena semata-mata ingin menuruti keinginan hati. Setelah menyadari caraku dalam memberikan cinta tadi, aku tidak lagi merasa keheranan apalagi ikut menilai diriku "kecintaan sendiri" sebab hal-hal yang pernah kuberikan untuk si laki-laki. Mengirim pinjaman buku bacaan beserta bingkisan dari negeri jiran, surel-surel panjang (dan manisnya, dia membalas tidak kalah panjangnya!), hingga nyaris 30 buah catatan pribadi di HPku--karena aku terlalu malu untuk curhat ke teman perempuanku sekalipun. Belum lagi berlembar-lembar tulisan tangan tentangnya di buku diary. Gila memang. Andai dia tahu soal ini, mungkin tidak akan ada tuh celetukan "menyebalkan" darinya: "Kapan ya aku jadi bagian dari tulisannya?" Hey, wake up Babe!

Namun, sejatinya ribuan kata yang tertulis itu malah bukan (hanya) soal mengagumi dia atau senang dengan perasaan ini saja. Justru yang terjadi semua tadi adalah bahan cerminanku. Tulisan-tulisan reflektif dan overthinking itu menjadi mediumku semakin mengenal diriku saat mencurahkan rasa sayang dan afeksi ke seseorang. Aku jadi mengerti sikapku saat aku diperlakukan A, B, C, atau D. Aku semakin pandai mengenali hal-hal yang kusuka dan tidak kusuka sejak punya intensitas komunikasi yang stabil dengan laki-laki tadi. Ya, ternyata aku tidak sungkan untuk benar-benar "all in" saat sudah memilih sesuatu, dalam hal apapun itu. "passionate" kata orang-orang.

Tweet lain yang mendukung bagaimana aku memandang cinta adalah di bawah ini:

Sebab bagiku, mencintai bukan soal menang atau memiliki, melainkan tentang keberanian untuk menunjukkan hatiku apa adanyaa. Di sanalah aku ingin menempatkan cintaku: di tempat yang tidak mengubahku menjadi lebih kecil, tetapi membebaskanku untuk tetap menjadi diriku yang penuh (--@petriicchorr)

Setuju seratus persen. Seketika mengingatkanku pada lagu milik Sore yang berjudul "Somos Libres", "somos libres siempre solamente por tu vas" (setiap orang merupakan individu yang bebas untuk meraih apapun yang diinginkannya). Aku tidak pernah memandang ideal sebuah ide di mana harus memperkecil diri saat bertemu orang yang ingin mengenalku. Jika nantinya dia mendapat akses ke kehidupanku, dia tidak berhak untuk mengubah dan memaksaku keluar dari kesenangan-kesenangan yang sudah tinggal jauh lebih lama darinya.

Seketika aku juga ingat pernah membaca suatu kalimat yang cantik, lupa dapat dari mana. Katanya, sejatinya kita tidak pernah kalah kalau memang semua kejadian yang dialami itu diniatkan untuk mencari pengalaman. Kalah itu ketika kita tidak bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah-sudah. Sehingga bukannya bertindak makin cerdas, eh malah jatuh di lubang yang sama. Adanya masalah yang sempat menghilangkan kepercayaanku pada laki-laki tadi ternyata tidak membuatku merasa rugi pernah mengenalnya. Justru karenanya, aku jadi punya bahan belajar mengenal diri sendiri dan semacam tolok ukur jika suatu hari nanti ada orang lain yang ingin mencoba cintaku. Terima kasih ya, kamu :*!

hehe, ternyata ada tujuh surel

Ketika tulisan ini diunggah nantinya, sepertinya belum ada balasan darinya untuk surelku yang terakhir kali. Untaian paling jujur sepanjang pernah kenal dengannya. Kucurahkan perasaanku yang sejujurnya, di mana aku belum bisa untuk kembali ke kedalaman hubungan seperti sebelum adanya konflik itu. Di titik ini pun aku juga baru menyadari bahwa kalau dia bukan sosok yang kupilih, aku tidak bisa mengungkapkan segamblang ini soal kecemasanku, berisiknya kepalaku, hingga ketakutan pribadiku. Taruhannya harga diri, tapi untuk dia, tidak apa-apa lah.

Silakan katakan diriku tidak pandai soal urusan ini. Aku sadar diperingatkan secara tersirat oleh teman-temanku untuk jangan terlalu kecintaan, jangan abaikan warning, jangan jadi backburner, dan lain-lain. Meski terlihat se-available itu, aku tetap memiliki anchor dan boundaries kok. Karena teman-temanku tidak mengalami apa yang kualami, rasa-rasanya nasihat mereka ingin kusimpan dulu. Di samping itu bukannya memang betul jika bab cinta dan asmara semua orang memang remidi?

Lastly, kutipan lagi dari user @kagehirol sangat menggambarkan aku ketika memilih untuk care dan sayang ke seseorang:

RIGHT 😭 i've never been the type to hold back when i love someone. if i care, it shows. if i love him, he’ll know. whatever happens after that, i'll figure it out when the time comes lagipula kalau at the end aku capek ill stop and leave him kok

Kalau saja kapasitas mencintai laki-laki yang sedari tadi kuceritakan bisa sebesar itu untuk menampung luberan kasih sayangku, kupastikan dia akan masuk ke daftar prioritasku :) Hm, mari kita lihat beberapa waktu setelah ini ya. Semoga selamanya aku tetap punya kapasitas untuk mencintai, siapapun orangnya nanti.




Yogyakarta, 23 Juni 2026
ide tulisan ini selesai bertepatan dengan menit terakhir
lagu "Pudar" dari Murphy Radio dimainkan.


src image cover: Unsplash