Mengupayakan menulis refleksi Ramadan tahunan yang entah kenapa kali ini bingung banget deskripsiinnya gimana. Bukan karena ga bermakna, justru karena terlampau banyak yang Allah kasih sampai ga ngerti mau mulai dari mana.

Ramadan tahun ini seolah-olah memperlihatkan ke aku kalau dalam jangka waktu setahun saja Allah udah bisa ngasih lihat kuasaNya tentang bagaimana roda kehidupanku berputar. Hal ini kusadari waktu menjawab panggilan i’tikaf untuk pertama kalinya di usia dewasa dan aku sedang journaling merefleksikan perjalanan selama sebulan ini. Tertanggal 18 Maret, aku pergi ke Masjid Islamic Center UAD untuk “begadang” bersama para pemburu sunnah sepuluh malam terakhir itu sambil membawa buku “diary”.

Metode journaling-ku masih tulis tangan dan tidak pernah dihias ala-ala sebab tujuanku memang ingin menuangkan pikiran saja. Tanganku iseng membuka-buka bagian depan terlebih dahulu dan jadi ngeh kalau buku tersebut sudah kugunakan dari Ramadan tahun lalu. Kubuka lembar demi lembar dan berhenti di satu catatan yang kubuat di tanggal 18 Maret 2025. Ah, yaAllah ini catatan setahun yang lalu! Ga ekspek aja, bisa gitu “dapat panggilan” curhat lagi dalam jangka waktu setahun persis.


Akulah si Manusia Golongan Keempat Itu

Catatan itu kutulis dalam bahasa Inggris. Membaca kalimat pertamanya mendadak langsung teringat perasaan tertekan saat mengalami fase paling tidak recommended seumur hidup: dilema perihal karir dan masa depan. Di sana, aku memproyeksikan diriku menjadi akademisi dan menulis rencana terkait S2 di suatu kampus di dalam negeri dan dua kampus luar negeri. Aku masih sangat ingin merantau (FYI aja hanya boleh kalau ke luar negeri) karena menurutku saat itu menjadi alternatif paling oke untuk belajar hidup mandiri, di mana waktu itu orang tuaku masih kekeh di usia 25 nanti aku sudah dilepas bersama pasanganku kelak #takut. Proses selama setahun ini rupanya baru kerasa bahwa belajar bahasa asing itu nyata sulitnya. Dan kocaknya dulu aku berpikir mendapatkan skor minimal, lancar bicara casciscus in English, dan beradaptasi dengan lingkungan baru itu mudah, semudah kata-kata content creator beasiswa itu. Ah, tidak lagi-lagi aku memercayai mereka yang klaimnya hanya persiapan 1 tahun saja.

Bagian paling menariknya adalah catatan 18 Maret 2025 itu kubaca dengan posisi aku sudah sebulan menjadi mahasiswa S2 di kampus dalam negeri, di jurusan yang kutulis dua kali di sana, dan bonus dari Allah: dikasih beasiswa! Alhamdulillah. Membaca tulisan tadi, reaksiku cuma bisa ngetawain betapa naifnya diriku tahun lalu. Kalau kata Imam Al-Ghazali, aku termasuk ke manusia golongan keempat: “dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”. 

Tidak jauh dari catatan tanggal 18, ternyata beberapa hari kemudian aku bercerita lagi kalau aku dapat offer di University of Manchester, jurusan MSc of Machine Learning. Masih conditional sih, tapi lumayan kan? Lagi-lagi aku ketawa karena sekarang aku sudah sadar kalau yang sebenarnya aku cari tidak melulu harus dijawab sampai terbang jauh ke Inggris Raya sana. Toh, fasilitas dan layanan di kampusku sekarang saja sudah cukup membuat aku amazed, apalagi kalau sampai betulan ke luar negeri? Mungkin aku termasuk udik, wkwkwk. Yah, tapi tidak apa-apalah, perjalanan yang penuh bimbang dan ragu itu membantuku mengkalibrasi lagi tujuan hidup. Bisa jadi kesempatan studi ke luar negeri itu bisa terjawab di lain waktu? (Aamiin..)

Dibuang sayang e-mailnya :)


Perempuan yang Mengurus Masjid

Ramadanku tahun ini juga lagi-lagi kudedikasikan untuk kembali ke masyarakat. Bedanya, jangkauan tahun ini sudah lebih meluas karena aku dan teman-teman RISMANI diberi kepercayaan (lebih tepatnya tantangan) untuk menghandle kegiatan-kegiatan di masjid dan masyarakat; tidak hanya TPA saja. Makasih yaAllah buat percikan kekuatanMu untuk kami, hingga akhirnya selamat sampai akhir meski aku sadar dalam membimbing dan mengarahkan kapal ini masih banyak kurangnya.

Kusebut Ramadan 1447 ini tahunnya RISMANI reborn setelah vakum lebih dari tujuh tahun, sembari memetakan dan melihat potensi bisa sejauh mana kami bergerak. Dengan komposisi tim yang sudah berbeda dan cenderung baru semua, harapanku kelanjutan dari momentum come back ini ada ide dan inisiasi segar demi terjaganya kehidupan komunitas muda-mudi muslim organik di lingkungan tempat tinggal kita. Senior-senior kami sudah berkeluarga dan hanya tersisa kurang dari sepuluh yang masih aktif membantu kegiatan: makasih Mbak Via, Mbak Dila, Mbak Rahma, Mbak Nanda, Mas Feby, Mas Ajik, dan dukungan jarak jauh dari mas-mbak lainnya.

Sisa-sisa takbiran :D


Selama berkegiatan di Ramadan yang surprisingly melampaui ekspektasiku, jujur saja ada rasa kesal yang mungkin tak akan terbalaskan untuk pihak yang tidak bertanggung jawab atas jarak yang tercipta antara masjid dengan muda-mudi lokal. Masalah yang entah, mungkin sekompleks itu, sampai-sampai sempat tidak ada ruang kepercayaan lagi untuk anak-anak asli kampung sini; selain problema regenerasi waktu itu yang juga kurang serius digarap. Padahal seyogyanya itu ranah yang dapat diselesaikan dengan dialog antara pengurus masjid (mengingat standar takmir versiku adalah Abi yang solutif). Kesalnya lebih ke karena sentimen personal aja sih, kayak.. “Woi, ini aku juga yang harus beresin?”

Meski akhirnya aku menerima tantangan dan dipercaya untuk menjembatani solusi atas problem tersebut, ternyata aku masih struggle untuk berdamai dengan identitasku sebagai “perempuan yang mengurus masjid” dan beradaptasi dengan kehidupan segarku setelah respawn terhantam realita di 2025. Cerita tentang ini kubuat terpisah di artikel mendatang.


Ramadan di TPA 1447 H

Tentang TPA, alhamdulillah aku masih diberi kemampuan buat meng-handle ini lagi (jangan-jangan akan berakhir kalau aku menikah dan dibawa suamiku pergi dari rumah? 😱). Bahkan sudah kumulai sejak sebelum Ramadan, sebabnya TPA kami sempat mati kira-kira enam bulan lamanya. Hehe… jujur aja gelisah karena aku pribadi enggak mau program yang udah eksis selama dua dekade ini hilang begitu saja dan hanya muncul saat Ramadan. Seperti… sebagai pengajar (sebelum kuputuskan aku ambil peran sebagai project manager-nya), aku merasa bertanggung jawab juga atas timbul-tenggelamnya kegiatan rutin masjid yang paling meriah ini.

Per Januari lalu TPA kurombak formatnya menjadi “klub bermain” yang hanya terlaksana sekali seminggu. "At least ada lah", pikirku. Dan ya, di sinilah letak kebahagiaanku: jumlah anak yang konsisten dari pra-Ramadan sampai akhir Ramadan. Alhamdulillah yaAllah. Spesialnya, tahun ini aku tidak lagi menjadi the only one pengajar perempuan/ustadzah. Sebab aku telah memberanikan diri untuk mengajak dua partner baru: Dila dan Fela untuk sama-sama membangun lagi TPA yang sempat terbengkalai ini. Cerita tentang TPA juga kubuatkan segmen sendiri nanti di artikel mendatang.

Ramadan di TPA 1447 :)


Refleksi: Tidak semua orang (sekalipun yang masih hidup) bisa merasakan Ramadan

Ramadan 1447 juga menjadi momen di mana aku menyadari bahwa kesempatan merasakan nikmatnya beribadah secara ritual di bulan mulia ini tidak didapatkan semua orang. Mungkin memang secara umur masih diberi kesempatan untuk bertemu sampai Idulfitri, tapi ini tentang bagaimana kita merasa hidup di antara momen-momen tersebut.

In this economy and regime, bersyukurlah mereka yang mungkin jam kerjanya hanya dari pagi ke sore sehingga masih memungkinkan untuk merasakan tarawih berjamaah di masjid, bahkan beristirahat dengan nyaman setelahnya untuk siap-siap sahur di keesokan hari karena ada jaminan gaji dan THR. Tapi coba pikirkan rekan-rekan pedagang takjil, ojol, para pegawai shift malam, penjaga warung, dan lain-lain yang mau tidak mau merelakan waktu prime time looting pahala sunnahnya demi bisa makan keesokan harinya?

Dari fenomena di atas, aku merefleksikan sifat pemurah dan adilnya Allah. Yang mendapatkan kebaikan Ramadan tidaklah hanya untuk mereka-mereka yang berhasil menghidupkan hari dengan performa ibadah ritual. Orang-orang yang bekerja dengan niat untuk ibadah, serangkaian kegiatannya akan dicatat pahala. Motivasi menghidupi keluarga dengan rezeki yang halal, melayani orang yang membutuhkan, jujur dalam bekerja, dan kebaikan-kebaikan lainnya tetap dihitung sebagai cara kita menghidupkan sunnah. Nah, mungkin yang sebenarnya sulit dikompromikan adalah kesan yang dipunyai tentang kegiatan berjamaah itu sendiri, yang memang di luar Ramadan pun sulit diimbangi euforianya.


Bagiku, Ramadan (masih) menjadi bulan ta’dib

Di Ramadan 1447 aku cenderung belajar dari pengamatan dan pengalaman. Aku tidak mengikuti episode-episode kajian yang kugandrungi beberapa tahun belakangan. Aku lebih banyak membaca (baik buku maupun situasi) dan mengaplikasikan pelajaran yang sudah kupelajari bertahun-tahun lamanya itu. Dari sana aku mengedukasi diri, belajar apa itu toleransi, bentuk-bentuk menghamba, tata cara bermuamalah, dan lain-lain. Bahkan, dinamika yang unik antara Muhammadiyah dan NU selama Ramadan kemarin membuatku berani merefleksikan ulang pandanganku tentang ormas tempatku bertumbuh; yang aku sendiri tidak pernah kepikiran untuk pindah ke lain hati. Keadaan di permukaan yang sering berbeda dengan apa yang sebenarnya dialami di level grassroot membuatku mengasah lagi kemampuan berpikir kritisku. Mempertanyakan lagi “mana yang masih bisa” atau “mana yang baiknya dicukupkan” demi menjaga kewarasan.

Rangkumannya, Ramadan 1447 ini benar-benar kembali mendidikku, men-ta’dib-ku menjadi hamba yang lebih mapan lagi. Mataku terbuka lebar, langkah dan prinsip hidupku lebih kuat nan jelas daripada setahun yang lalu. Tentu tidak lain tidak bukan karena pertolongan Allah sehingga aku sampai di momen ini. Banyak yang mau Allah sampaikan ke aku lewat macam-macam caraNya. Oleh karena itu, Ramadan tahun ini seolah-olah mengembalikanku menjadi manusia yang grounded dan napak tanah. Makasih yaAllah, mudah-mudahan aku tetap menjadi hamba yang eling lan waspodo.



Yogyakarta,
26 Maret 2026 M / 7 Syawal 1447 H
YaAllah udah sejauh ini ternyata :)



Photo cover by Simon Infanger on Unsplash