Entahlah, aku cuma mau berbagi biar ga terpendam lama atau terkubur dalam-dalam mengenai apa yang baru-baru ini kupelajari dan akhirnya kuamini. Meski berat hati enggak bisa ngambil semua keputusan sekaligus, toh juga normal aja kalau merasa sedih habis mengambil langkah yang benar.

Sejak tiga per empat 2025, aku telah membisikkan ke jiwaku bahwa perjalanan mengenal diri sendiri dimulai. Aku melepas semua ikatan yang pernah “membelenggu”, ketakutan-ketakutan yang menghabiskan energi, serta tidak lagi melewatkan kesempatan-kesempatan yang datang silih-berganti. Aku kembali mendengarkan kata hati, dan ternyata ia selalu berpulang pada “lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia!”. Fyuh.

Rasanya payah sekali menghembuskan nafas dengan ringan, sebab aku tahu bahwa sumber kebahagiaanku itu kerap kali datang dalam bentuk pengalaman baru yang pernah membuat orang terdekatku bilang bahwa aku orangnya tidak fokus. Teguran yang kudapat setahun belakangan itu membuatku ciut dan memaksaku untuk terbangun dalam keadaan setengah sadar-nyalang-setengah sadar setiap harinya. Ya tentu, karena dibayang-bayangi kekhawatiran akan masa depan yang tidak jelas katanya.

Kekhawatiran itu tidak berlangsung lama, sebab di tengah-tengah aku menemukan penawar. Dengan kapabilitas yang katanya punya istilah “jack of all trades”, rupanya aku termasuk mereka-mereka yang punya banyak sisi. Multi passion, multi faceted. Tapi tentu, aku menyadari bahwa aku harus punya arah. Ternyata jawabannya adalah sesederhana aku harus memilih.

Pilihan-pilihan tadi bermuara pada aku yang perlu meninggalkan satu-dua hal dan kembali menyeriusi yang sudah lama terbengkalai. Mengingat aku juga tidak pernah punya mimpi spesifik harus A, B, C, …, memang yang terbaik adalah memilih pilihan yang sekiranya terus mendekatkanku pada mimpi tidak spesifik itu tadi: melanjutkan mimpi orang tuaku.

Dua pekan lalu aku menyadari bahwa ayahku menitipkan cita-cita besar yang mau tidak mau harus kupikul. Aku diminta untuk melanjutkan estafetnya di dakwah dan menjadi pemimpin, tentu dengan caraku sendiri. Jelas sekali rasa mindernya sebab aku perempuan, tidak pandai beretorika, juga tidak mengenyam pendidikan agama yang runut sumber dan gurunya. Tapi kata beliau, "dakwah sekarang tidak cuma di atas mimbar". Jadi, harus gunakan semua kemampuan dan kapasitasku agar berguna. Jika mereka bisa melihat aku berhasil dalam hal ini, pasti mereka akan senang berlipat ganda. "Lebih-lebih dari kalau kakak jadi anggota dewan atau pimpinan," kata Abi.

Sejak saat itu, aku tidak lagi takut menjadi kakak perempuan pertama. Alias aku sudah menerima takdir ini dengan lapang hati. Aku lebih takut kalau aku enggak bisa melanjutkan estafet mimpi besar Abi. Daripada takut menikah, aku lebih takut kalau aku enggak bisa memberikan timbal balik dari semua upaya yang telah “diinvestasikan” orang tuaku untuk menyiapkan diriku di masa mendatang ini.

Di satu sisi, aku juga dengan mudah menerima pandangan orang tuaku ini karena pada dasarnya aku juga memiliki definisi yang sama soal estafet mimpi. Ini adalah buah dari pikiranku setelah membaca buku “What It Takes”-nya Gita Wirjawan yang secara garis besar mengandung impiannya mengenai Indonesia di masa depan. Kesimpulan yang bisa aku persempit maknanya bagi seseorang sepertiku yang pernah takut bermimpi, ternyata bermimpi besar dan (terdengar) utopis itu boleh kok. Konsepnya, kalau belum terkabul sampai mati, berarti harus ada generasi selanjutnya yang menghidupkan mimpi itu lagi sampai terwujud.

Ini linear juga dengan bagaimana aku memandang tujuan memiliki keturunan. Bukan hanya sekadar ladang amal jariyah, aku mau agar mimpi-mimpi yang kubentuk ini punya penerusnya. Agar terus hidup dan langgeng kebaikannya. Sehingga yaa.. mau ga mau memang kita, terutama sebagai muslim, harus punya spirit “estafet mimpi” tadi. Pertanyaannya, “mimpi”-nya siapa yang mau diteruskan?

Fragmen pikiran yang tersebar dan baru didapatkan setelah bertahun-tahun ini lantas kusadari sebagai bagian dari komponen bintang utara yang kususun sejak kuartal keempat 2025. Sebuah kompas hidup yang akan selalu kugunakan dan kulihat arahnya setiap memilih suatu keputusan. Sejak diterapkan, ternyata semakin mudah bagiku untuk mengeliminasi mana yang mau kulanjutkan dan mana yang harus dihentikan segera sebelum berlarut.

Mudah-mudahan bisa istiqamah. Mudah-mudahan diridhai oleh Sang Maha Daya.


Yogyakarta, 1 Februari 2026
kembali lagi ke tempat nugas langganan waktu kuliah

Photo by TOMOKO UJI on Unsplash