Entah kenapa refleksi tahun ini diupload (dan baru dibuat) 10 hari setelah pergantian tahun 2026. Ya udahlah, ya. Mungkin masih capek dengan roller coaster hidup selama setahun yang lalu, dan baru menemukan nyaman/stabilnya di tiga bulan terakhir. Asli, sih. 2025 mengajarkan banyak hal buatku.
Sebetulnya aku tidak punya banyak kisah untuk diceritakan, sebab aku agaknya hanya bisa mengingat separuh terakhir dari 2025. Mungkin di saat itulah aku baru merasa hidup dan kembali tersadar setelah kuartal pertama dan kedua hidup seakan-akan diprogram dan berjalan autonomous. Ah, aku tidak ingin mengulangi masa-masa tertekan itu. Meskipun begitu, kalau tidak ada kejadian-kejadian tidak mengenakkan itu, aku pasti tidak akan belajar.
2025-ku kemarin sepertinya tindak lanjut dari 2024. Di blog ini pun aku menyebutkan bahwa 2024 adalah tahunku merasa FOMO. Dan aku tidak menyangka kalau itu berlanjut sampai pertengahan 2025. Memang benar adanya, tidak melulu pergantian tahun juga bermakna pergantian momentum. Bisa jadi di tahun baru kita hanya melanjutkan hidup tahun lalu. Bedanya mungkin bumbu-bumbu dan dinamikanya. Beruntung sekali aku disadarkan Allah dengan segera, sebab rupanya hidup tidak bisa menunggu. Harus segera ambil jalan dan keputusan.
Jadi teringat satu kalimat dari buku "Pribadi Hebat" karya Buya Hamka. Katanya begini,
"Orang yang ingin menghadapi semua urusan, tidaklah akan jaya. Umur kita sangat sedikit dan jalan yang ada banyak. Apa yang kita lihat bagus pada orang lain, belum tentu bagus bagi kita."
Kurang lebih sepertinya aku mengamalkan bagian "umur kita sangat sedikit dan jalan yang ada banyak". Sebab 2025 kemarin kerasa banget kalau aku banyak maunya, idealis, kukuh pada pendirian, egonya tinggi; sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa waktu terus berjalan. Hingga akhirnya aku perlu merotasikan pandangan dan menyusun lagi "aku tuh sebenernya maunya apa sih". Meski membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan perlu menarik diri sejenak dari hingar bingar kehidupan, aku berhasil menemukan rumusan-rumusan yang kiranya akan kupegang erat-erat sampai checkpoint selanjutnya.
Ngomongin checkpoint, tahun 2025 juga kujadikan penanda bahwa umur 23 ini adalah titik tengahku sebelum mencapai 25. Jika kehidupan dewasa dimulai di usia 20, maka 20-22 sudah cukup untuk eksplorasi. 23-25 menjadi periode untuk menguji apa yang sudah didapatkan di tahun-tahun sebelumnya. 25 adalah usia yang orang-orang sepertinya takut sekali dengannya, sebab dipenuhi ragam ekspektasi dan beban-beban tak kasat mata. Begitu pun aku, tidak merasa beres dengan usia 25, seperti ada sesuatunya. Oleh karena itu, aku cenderung mengantisipasi hal-hal di luar kendali itu dengan menata ulang pikiran, memilih dan memilah mana yang masih boleh bercokol di ingatan. Setidaknya aku mengerti ada arah yang harus kulihat lagi jika merasa hilang di tengah perjalanan.
2025 juga menandai tahun di mana aku "mengalah" dengan diri sendiri. Aku mulai menerima bahwa kondisiku memang tidak seperti kebanyakan orang lain. Aku mulai mengaku untuk menjalani hidup sebagai manusia multi-passionate, punya banyak dunia dan kegemaran. Istilah lainnya multifaceted, sisinya banyak. Aku merasa ada sebagian diriku di dunia teknologi, dunia seni, hingga dunia religi. Hal ini membantuku untuk memfilter orang-orang yang mungkin akan datang di hidupku kelak. Ia yang bertahan adalah ia yang mau menerima dan memaklumi seluruh duniaku, syukur-syukur berhasil untuk mempelajarinya. Mari kita lihat, ya, apakah 2026 sudah punya jawabannya atau belum (hihi). Tidak apalah terkesan ribet.
2025 pun memberikan ujian padaku tentang konsistensi dengan integritas. Aku meninggalkan hal-hal yang kurasa mengganggu prinsip hidup yang telah settle hasil didikan orang tua dan keluarga intiku di rumah. Meskipun aku mengeksplorasi ragam pengalaman, sirkel pertemanan, hingga dikacaukan berita-berita tentang negara yang tidak lekas membaik ini, aku masih bisa menyeimbangkan rasionalitas dan perasaan pada setiap keputusanku.
2025 sungguh membentukku untuk menjadi orang yang kembali mempertanyakan segala keputusan dan pemikiran tentang nilai diri sendiri. Pertanyaan andalanku adalah, "apakah yang kulakukan ini benar dan diridhai?". Hingga akhirnya aku berhasil untuk tegak berdiri dengan segala keputusan yang kuambil tanpa takut dibayang-bayangi pemikiran "bertanggung jawab atas perasaan orang lain". Sebuah prestasi ketika di akhirnya segera kusadari bahwa aku mulai berani untuk memilih diri sendiri.
Hasil belajarku di 2025 kutuangkan dalam bentuk visi-misi baru untuk hidup. Aku berusaha menyadari peran, kodrat, dan apa yang ingin aku kerjakan di masa depan. Semua kurumuskan dalam sebuah narasi dengan tajuk "The North Star". Bintang utara. Filosofinya, bintang utara itu karena letaknya selalu ada di utara bumi, ia berfungsi sebagai kompas alami. Nama lainnya adalah Polaris. Secara astronomi, ia adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Secara simbolik, bintang utara menjadi kiasan untuk "petunjuk", "inspirasi", dan "penopang jalan saat seseorang merasa ragu".
Kalau dirangkum, jujur saja 2025 menjadi tahunku untuk lebih berani dan belajar ikhlas. Berani untuk menata ulang hidup, berani untuk mengambil jeda, berani untuk mengeksplorasi musik dari berbagai belahan benua, berani untuk masuk dan mempelajari dunia-dunia yang baru demi membuka wawasan, berani untuk menulis, dan berani untuk mendobrak stereotip--setidaknya pandangan dari orang tuaku sendiri. Mudah-mudahan mereka juga ridha dengan segala gebrakanku.
Pada akhirnya, aku ingin 2026 kujalani dengan enjoy. Sama seperti takarir yang kugunakan di postingan Instagramku: "Hidup-hidupilah 2026 dengan enjoy!". Selama aku masih berjalan menuju bintang utaraku dan memercayai bahwa Allah masih akan membimbingku, rasanya perjalanan nanti tidak akan seberat saat aku belum mengenali tujuan jangka panjangku. Mudah-mudahan semakin banyak karya yang dihasilkan.
Mudahkanlah yaAllah!
Yogyakarta, 10 Januari 2026
Beberapa jam sebelum Pleno 4 PW IPM DIY

0 Comments
Posting Komentar