Mungkin memang pilihanku untuk menepi sejenak dari riuh kehidupan sudah tepat. Di sela-sela hening, yang kutemukan di sana adalah diriku sendiri. Mengenaskan, ia kehilangan tujuan. Yakin benar bahwa kehidupan itu dinamis, namun ia tetap memilih untuk kukuh pada angan-angan yang ditetapkan tanpa kesadaran. Ternyata bahaya betul jika kita hidup tidak punya tujuan. Meskipun sebagai muslim memang tujuan akhirnya adalah akhirat, rasanya sangat abstrak ketika tidak mampu menentukan jalan kebaikan mana yang mau ditempuh. Empat bulan belakangan ini hidupku tenteram meski sepi sekali.
Seketika aku teringat perbincangan medio 2022 dengan seorang guru muda tentang "turning point". Sepertinya memang fase itu datang padaku di kuartal ketiga dan keempat 2025 ini. Mulanya aku merasa yakin dengan segala rencana yang dirancang dengan kemampuan manusia yang papa ini. Namun, ternyata over confidence juga tidak baik untuk dilakukan. Akibatnya, aku menjadi sosok yang denial, berego tinggi mengalahkan kemurnian hati, mengedepankan akal, dan bukan lagi berprasangka baik pada ketentuanNya.
Sepuluh miliar persen aku yakin tangan-tangan Tuhan bekerja dengan kuasaNya yang tidak terpikirkan oleh akal manusia. Mulai dari pertemuan dengan orang-orang yang pikirannya membuka cakrawala pengetahuanku hingga tidak sengaja melihat foto dua tangan yang memegang es krim dan sukses membuatku takut sekali membuka story Instagram orang tersebut. Sisi buruknya, aku patah hati. Sisi baiknya, aku jadi mengerti kalau reaksi panikku adalah nafas berubah pendek-pendek dan tangan gemetar selama nyaris tiga hari. Sedih sudah pasti, tapi paradoksnya setelah itu aku merasa senang; karena akhirnya memiliki waktu yang panjang dan lega untuk kembali terkoneksi dengan diriku lagi. Aku merasa perlu membangkitkan self worth dengan mengunjungi lagi kesukaanku yang terkesampingkan karena disibukkan dengan hal yang nirfaedah itu.
Tertawa adalah reaksi pertamaku membaca kumpulan catatan pribadi yang tersebar di tulisan tangan buku harian, ketikan private pages di Notion, dan cuitan-cuitan di akun nol followers milikku. Ternyata aku sangat naif dan polos untuk merumuskan langkah menjalani 2025 ini. Padahal aku cukup paham jika hidup tidak melulu menuruti rencana yang kita buat. Ternyata, aku masih banyak takut dan tidak siapnya. Sejak menepi dan banyak berinteraksi dengan Abi-Umi, aku jadi mengerti ternyata aku terlalu mengandalkan 100% otakku. Karena itulah aku jadi cepat lelah dan selalu khawatir akan hari esok. Padahal aku bisa menyerahkan sebagian "beban"-nya ke Allah, kan? Hingga akhirnya kini aku hanya bisa menertawai rencana-rencana yang tak terwujud itu. Sisi baiknya, aku jadi mengenal apa itu personal manifesto dan berusaha menatanya untuk menjadi alat bantu navigasi diri.
Entah ya, aku merasa momentum ini harus diciptakan sendiri. Tidak perlu menunggu kapan kita senggang, sebab kalau masih membiarkan pekerjaan (yang sebenarnya bisa dialihkan/diwakilkan), perjumpaan dengan diri sendiri tidak akan terjadi. Sepengalamanku, aku akan terus-terusan mengesampingkan segala topik yang terus bercabang di kepala tanpa benar-benar pernah menyelesaikannya. Hanya kepikiran, tulis sembarangan agar sedikit ringan, tapi tidak ada kepuasan apapun setelahnya. Ini membuatku sangat frustasi dan kecapekan sendiri. Akhirnya, ketika ada kesempatan untuk menghindari urusan-urusan yang bisa diwakilkan, aku langsung mengambil langkah untuk tidak terlibat saja dari awal.
Kalau boleh kusebut, fase ini kunamai "menemukan kembali titik balik kesadaran". Di pekan-pekan pertama, aku mencoba dengan sangat untuk mengurangi distraksi. Berikut adalah upaya-upaya yang kulakukan:
-
Membiarkan ponselku mati tak berdaya (ini kebiasaan yang amat buruk) dan hanya dicas jika ingin pergi,
-
Pesan hanya kuakses via situs desktop (baik itu WA/DM Instagram),
-
Deactivate akun X dan kini telah lenyap sebab tidak login selama 30 hari (dan itu bukan hal yang besar buatku, toh aku udah cape\ berdinamika di sana),
-
Mematikan centang biru di WA dan menghapus foto profil
Sehari-hari, pekerjaanku hanya melanjutkan pembelajaran bahasaku dilanjutkan dengan kontemplasi. Tidak lupa bolak-balik laman pascasarjana dan beasiswa di berbagai kampus di seluruh dunia, serta tentu saja lowongan pekerjaan. Ketika malam menjelang, aku menyiapkan kertas A3 dari buku gambar bekas dan menempel-nempelnya dengan sticky notes. Tulisannya tidak random, melainkan ada temanya: kehidupan menuju usia 25 (entahlah, aku selalu menganggap 25 adalah usia sakral di keluargaku).
Aku memikirkan ragam konsep kedewasaan mulai dari karir hingga rencana berkeluarga. Secara garis besar isinya memang renungan dan poin-poin yang selalu sekelebat muncul di otak setiap memikirkan suatu topik. Setelah memenuhi kertas dengan sticky note persegi berukuran normal, aku menuliskan kesimpulan-kesimpulan di bawahnya. Ajaibnya, keberanian yang diilhamkan Tuhan memintaku untuk membuat sebuah deck presentasi mengenai pemikiran-pemikiranku ini untuk dikirimkan ke Ayahku. Alhamdulillah, beliau acc dan berusaha memahami pilihanku --meski mungkin ia sedikit kecewa sebab lagi-lagi aku meruntuhkan ekspektasinya.
Untuk menjaga kemampuan bersosialku, aku masih mengikuti forum-forum dan agenda yang menurutku menarik dan "aku banget". Hatiku sangat penuh dan senang sekali karena terpapar ilmu dan cara baru dalam memandang dunia. Bahkan beberapa keraguanku pun jadi terjawab karena aku bertemu satu-dua orang yang --kutahu pasti-- digerakkan hatinya oleh Allah untuk memberikan petuah melalui perantaraNya. Sesekali memang terasa sepi dan sedih, sebab merasa sangat jauh dengan lingkaran ternyamanku yaitu dengan teman-teman di organisasi. Namun, tidak apa-apa juga, toh ini adalah konsekuensinya.
Namun, aku menyadari tindakanku sepertinya ...menyebalkan bagi sebagian orang. Secara tidak langsung aku "menjauhi" teman-temanku. Berbagai pesan tak terbaca, missed call yang kuabaikan, dan ajakan-ajakan bertemu yang kerap batal. Sebagian diriku mengaku bahwa aku takut terdistraksi saat sedang menyusun langkah-langkah dan terkoneksi dengan diri sendiri. Aku khawatir akan pergeseran prioritas dan mood ketika aku sedang fokus-fokusnya. Sekarang, aku cuma bisa berharap agar dapat segera memperbaiki keadaan dan hubungan. Minimal semoga mereka masih mau bertemu denganku lagi suatu hari nanti. Kalau dari pengalamanku selama berteman, keadaan seperti es ini akan cepat mencair jika kami bertemu secara langsung.
Akhinya aku mengakui bahwa di fase ini egoku sangat tinggi, terlalu percaya diri, dan jarang berkonsultasi dengan hati; malah aku meminta hatiku untuk mengikuti akalku. Ternyata dampaknya aku hilang arah, hanya mengikuti arus tanpa mengerti apa yang sebenarnya diinginkan dan dituju. Aku juga semakin memvalidasi diriku bahwa aku mudah takut dan cukup banyak overthinking mengenai hal-hal yang belum terjadi. Di satu sisi, aku mengambil sudut pandang bahwa pengalaman ini membawaku untuk mengenal kembali diriku lagi, termasuk mencari apa yang sebenarnya kucari. Entahlah, apakah ini memang fasenya atau hanya aku sendiri yang mengalami ini di antara teman-temanku?
Jika tidak begini, mungkin aku tidak menemukan kesadaran-kesadaranku yang menguatkan langkahku untuk maju lagi. Aku banyak mempertanyakan eksistensiku, apa dan kenapa ini harus terjadi; yang kurasa pertanyaan-pertanyaan tersebut tuntas terjawab sejak wisuda tepat setahun lalu. Tentang pilihan-pilihan hidup, kesempatan-kesempatan yang datang dan pergi, serta pertaruhan antara waktu, usia (dan masa kejayaan) orang tua, dan zaman yang sangat cepat.
Sampai hari di mana tulisan ini nantinya selesai, kurasa aku belum bisa “mentas” dari waktu menepiku deh. Meski jika ditanya, kira-kira sekarang sudah 80% aku kembali memercayai dan memberanikan diri untuk hadir lagi di publik. Berkat kesendirian ini, aku telah menetapkan di mana kakiku berpihak dan arahku akan melangkah. Aku juga kembali mengunjungi kegemaran dan keahlian lamaku. Aku sudah sadar apa peran yang akan kuambil. Aku juga sudah memahami urgensi dari posisi-posisiku dan identitasku yang tampaknya kerap memiliki irisan yang tajam dan tidak samar ini.
Akhirul kalam, fase ini tidak terjadi tiba-tiba. Tentulah aku tidak bisa melewati ini jika tidak didukung oleh Allah, diri sendiri, orang tua dan adik-adik, serta teman-temanku yang sampai detik ini setia mendengar ocehanku. Jadi... terima kasih ya...
Sumber foto sampul:
0 Comments
Posting Komentar