Semakin hari aku semakin mahir mendefinisikan rasa takut. Sekadar terdefinisi, meski dalam menghadapinya masih sering kewalahan dan kadang menyerah. Setidaknya kini aku mengerti bahwa ketakutanku “mau jadi apa besok” (apalagi sebagai WNI) jauh lebih besar daripada takut hantu.
Dulu, aku takut pergi ke kamar mandi sendiri. Sejak masuk asrama, ketakutan tersebut tidaklah seberapa dibandingkan pernah tidak sengaja berinteraksi langsung dengan makhluk astral yang apesnya latar ceritanya juga di kamar mandi. Ketika sudah berani menceritakan pengalaman horor tersebut sembari menertawakan kejadiannya, ternyata “yaAllah gitu doang tapi takutnya udah kayak apa aja.”
Dulu, aku tidak berani untuk sekadar memesan menu di sebuah kedai, apalagi pergi ke mana-mana sendirian. Karena dipepet oleh rasa penasaran, dengan sengaja aku menyiapkan banyak plan beserta detail step bagaimana cara melakukan ini-itu. Ketika sudah dicoba, ternyata aku menemukan sparks dan kesenangan ketika menghabiskan waktu untuk diri sendiri.
Dulu, aku khawatir skripsiku tidak selesai karena berganti-ganti metode sampai tiga kali. Karena ada reward dan deadline yang harus diperjuangkan, mau tidak mau harus memantapkan hati untuk berhenti merasa tidak puas dengan hasil yang saat itu sebenarnya telah nampak kira-kira 65%. Ketika sudah diselesaikan, ternyata aku baru sadar telah membuang-buang waktu yang cukup banyak hanya karena “ragu”.
Kini, kalau dipikir-pikir sumber ketakutan yang “dulu-dulu” itu ternyata sepele dan remeh. Kalau diceritakan, pasti diawali kata-kata “cuma”. Cuma ke kamar mandi aja ngapain ditemenin? Cuma pesen boba aja ngapain harus latihan dulu? Cuma pergi ke Gramedia aja ngapain buka maps buat liat petunjuk jalan? Cuma tinggal nulis pembahasan dan kesimpulan aja ngapain sampe berbulan-bulan?
Karena untungnya hidup terus berjalan (meski akan berakhir juga), cerita-cerita yang diawali “cuma” ini juga terus berlanjut dengan ragam episodenya. Tentu porsi ketakutan yang dihadapi juga semakin besar, sedangkan raga yang dipakai segini-gini aja. Tapi gimana dengan kesiapan mental yang ternyata kalau diperhatikan udah terlatih sejak kecil? Misal kayak tadi, sesepele takut hantu sampai takut skripsian ga selesai? Toh ternyata bisa terlewati juga…
Rasanya aku menemukan pola yang bermula dari rasa takut ini. Aku takut karena sebelumnya nggak tau apapun tentang sesuatu yang akan dihadapi. Selain karena ketidaktahuan itu, hal yang paling signifikan menurutku adalah kurang yakin atas apa yang dikerjakan. Agar bisa terus bergerak maju, aku butuh sesuatu yang mendesakku, entah itu dari tuntutan, tenggat waktu, atau sekadar rasa penasaran untuk mengukur diri. Setelah coba mempersiapkan bekal dan menghadapi ketakutan tersebut, aku baru bisa melakukan penilaian: “wah ini dia!” atau “duh kayaknya nggak lagi-lagi deh”. Uniknya, penilaian tersebut sudah bisa dilakukan setiap selesai melewati satu-dua langkah meski belum sampai ke tujuan.
Tentu kalau mengandalkan kesiapan mental yang katanya sudah terlatih sejak kecil masih kurang untuk menghadapi besarnya ketakutan-ketakutan yang bakal terjadi di kemudian hari. Beruntung aku termasuk ke orang yang mudah sekali memercayai kekuatan kata-kata. Ya dari dalil-dalil kitab suci, mahfudzhat, petuah teman-teman dan orang dewasa di sekitarku, sampai “seringan” kalimat-kalimat dalam buku, konten di media sosial, atau lirik lagu. Meski sulit dipegang keberadaan fisiknya, setidaknya aku mengerti bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi ketakutan. Menurutku “punya teman” ini modal yang ga kalah besar sih untuk jadi berani.
Kalimat “ketakutan yang menenggelamkan, keberanian yang menyelamatkan” masih jadi personal favorite-ku, disadur dari lirik “Hujan Mata Pisau” dari FSTVLST. Sebab aku mengerti rasanya kalau aku terus takut, nggak akan ada kemajuan. Sedangkan kalau aku mulai memberanikan diri, aku pasti menyelamatkan satu-dua langkahku menuju ke tujuan. Adalah bonus kalau aku selamat dan berhasil ke sana.
Mendefinisikan rasa takut buat usia-usia yang hampir memasuki 3 tahun (atau lebih) sejak kepalanya 2 seperti diriku hendaknya dipandang sebagai perjalanan atas nama “self-discovery”. Tentu kita akan berhadapan dengan sumber ketakutan-ketakutan yang menurutku sudah sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia dengan pola pikir “growth mindset”, alias berkembang dan menerima segala perubahan.
Mungkin kita memang akan takut, mungkin karena sudah terlalu nyaman dengan keadaan sekarang, mungkin juga belum merasakan ada ledakan atau desakan yang mengharuskan untuk “pindah tempat”. It’s okay, seperti yang kita tahu, setiap orang punya linimasanya sendiri-sendiri. Di satu sisi kita juga perlu mengakui bahwa rasa takut itu wajar dan manusiawi!
Ditulis di penghujung Februari menjelang Ramadan 1446 H
Selamat menunaikan ibadah puasa <3
0 Comments
Posting Komentar