Ini kue keduaku selama 21 tahun hidup. Cantik yaa? Dia baru hadir lagi setelah 17 tahun berlalu :D


Hanya sebaris kalimat yang cukup untuk menggambarkan refleksi 11 Juli lalu. Jujur itu hari spesial buatku. Tapi seolah-olah ga ada apa-apa padahal aku sangat bangga dengan tanggal 11 Juli. 21 tahun hidup, kalau dirasa-rasa rupanya aku sudah melewati banyak hal. Ajaibnya diri ini masih bisa bertahan dengan baik, walau jenuh 'kan kutelan kalau kata band bapak-bapak pulang ngantor alias Perunggu. Bahkan ga jarang aku bengong di keramaian merenungkan hal-hal dalam hidup yang bahkan tiga tahun lalu rasanya ga pernah dibayangkan bakal diberi kesempatan untuk mengalami ini semua. Entah bisakah disebut life changing? Menurutku iya sih. 

Hebat sekali aku bisa memberanikan diri keluar dari tempurung ketakutan diri sendiri dan kekhawatiran orang sekitar. Lucu juga dulu beberapa keputusanku diremehkan orang tua (mereka lebih ke arah cemas daripada meremehkan, tapi cara menyampaikannya jatuhnya jadi meremehkan, paham ga sih?) tapi sekarang mereka bangga menceritakanku di depan orang banyak. Bahkan aku enggak nyangka bakal diposting di story media sosialnya. Mungkin... mungkin ya...kami tuh (masih) sama-sama takut, sehingga orang tua agak enggan memberikan kepercayaannya padaku. Padahal kurasa mana pernah aku memutuskan sesuatu tanpa laporan dan dipertimbangkan dengan matang. Kalaupun keputusan yang kuambil salah (menurut mereka), aku akan selesaikan itu dengan caraku sendiri kok! 

Meski kini kamu akan menjumpaiku dalam versi yang sudah jauhhh lebih berani daripada dua-tiga tahun lalu, tentu masih kusimpan kesulitan, kekhawatiran, dan ketakutan akan hari-hari mendatang. Kadang kalau beruntung, kamu akan mendengarkan sebagian kecilnya yang dengan sadar kubocorkan. Tapi tenang, dengan diperdengarkan keluh-kesah-kasih ku, kamu jangan merasa terbebani harus ikut menyelesaikan itu, ya! Sekali lagi aku punya caraku sendiri. Dan sejujurnya aku ga menutup kesempatan bagimu kalau mau ikut andil. Asal jangan merepotkan, hehe :)

Semakin paham kerja dunia, semakin bertambah daftar keinginan yang setidaknya harus bisa kucoret barang satu-dua poin. Sementara biar kubisikkan dulu ke Allah, kalau dikabulkan aku mungkin akan cerita juga ke sini. Meski kalau dipandang secara realistis agaknya ini terlalu sulit dan perlu pengorbanan lebih untuk mendapatkannya, aku yakin pasti ada jalannya. Pasti di 21-ku dan tahun-tahun berikutnya aku akan semakin kuat, semakin kokoh, dan semakin bulat tekadnya. Toh sudah punya 20 tahun pengalaman, ga mungkin kalau ga survive, ya kan?

Anyways, aku nulis ini sambil dengerin podcast Festival Patah Hati yang berjudul "Rasanya Jadi Anak Pertama". Heuheu... Kata-kata paling favoritku dari episode ini:

"Setiap aku nyelesaiin masalah gitu, aku belajar dari masalah itu. Mindset-nya gini aja. Kalau misal Tuhan aja percaya sama kita, masa kita ga percaya sama Tuhan?"