Kebanyakan deadline bikin aku jarang meluangkan waktu buat nulis-nulis di blog. Kalo dilihat-lihat, blog ini update artikel baru sebulan sekali. Bahkan dua bulan sekali. Menyedihkan, seakan-akan ga diurus gitu. Coba dibandingkan sama tahun-tahun awal blog ini dibuat. Dari segi intensitas seringnya upload sampai topik bahasan keliatan banget bedanya. Mungkin aku ga punya pelanggan setia yang biasa mantengin blog ini. Tapi apa salah kalau aku merasa seakan-akan ada kamu disana yang nungguin artikel baru?

#skip#

Deadline. Suatu perkara yang menjadi momok bagi para pekerja. Ya pegawai kantoran, pegiat organisasi, bahkan seorang ibu pun memiliki deadline-nya masing-masing. Deadline teh naon? Deadline teh tenggat waktu, batas akhir waktu. Misalnya, deadline pengumpulan tugas tanggal 1 Januari 2019. Itu artinya terakhir pengumpulan tugas tanggal segitu. Pasti paham lah tanpa aku kasih tau lebih lanjut. 
So why aku pake keyword "deadline" di awal artikel? Karena aku salah satu korbannya. Everyday kayak maraton sama deadline. Liburan? Jangan harap. Justru di liburan inilah tugas-tugas banyak menumpuk dkarenakan akses lebih leluasa di rumah. Laptop cincing kemana-mana. WiFi always on. Stop kontak tersebar. Kurang apalagi coba? O iya, kurang waktu :D

Teman-teman di sekolah sering mengamati aku ternyata. Ntar mereka bilang, "ya Allah, Be masih kurang ngerjain apalagi?" "Itu lho liat matamu udah sipit-sipit gitu" "Dek bobok sana... ga tega aku" "yaAllah Dek... sini sini tak bantuin. Tapi bantu ngrusak hehe :D" "Kerja lagi bos?" Bahkan ada beberapa dari mereka sering kutolak ajakan pulang bareng ke asrama. Sad but it's true :')
Buatku, mereka cukup simpati dan justru malah jadi penghibur. Kecuali yang ngomong bantuin ngrusak itu ingin ku sleding rasanya. 

Di kalangan se-organisasi, aku dikenal sebagai desainer grafis. Kebetulan juga aku ditempatkan di bidang Kewirausahaan, bagian desain biar barangnya laku keras. Anjae memang tapi yasudah lah :v
Terkadang bantu-bantu proker bidang lain. Bantuin apa? Apalagi kalo bukan desain-mendesain, biarpun kadang disuruh jadi fotografer juga. Nah karena faktor-faktor tersebut, dinding kamarku full of to do list yang harus kukerjakan. Seringnya hampir penuh, dan aku dah ga kuat lagi mau lihat dinding. Isinya ituuuu semua bikin kepala berat. Yang seharusnya aku di asrama istirahat malah kepikiran deadline. Serba salah.
Bukan hal yang jarang apabila aku kelupaan mengerjakan tugas-tugas non formal tersebut. Baru inget h-1 acara berlangsung. Itu suatu keparahan yang amat sangat dikarenakan duit bendahara sering terkuras habis berkat anak PDD. Biasanya banner. Banner waktu normalnya sekitar 2-3 hari selesai. Sedangkan kita minta untuk hari ke-3. Yaudah mau gimana lagi jadinya pake express yang membuat harganya naik 2x lipat. 

Karena tugas-tugas non-formal yang bejibun tersebut, sering urusan sekolah ku "masa bodo" in. Tugas jarang partisipasi, kadang cuma numpang nama doang, jarang perhatiin guru, sering tidur di kelas, ga semangat ngejar materi. Broke banget. Jujur aku sebel dengan diriku yang seperti ini. Harusnya aku nyusun strategi ulang buat benerin diri. Need more relax time plz. Itulah dampak buruknya seorang aku yang belum bisa membagi waktu dan prioritas dengan benar.

Ku akui, capek memang iya. Sangat. Sering anak kamarku ngomong, "Mbak Beba tu dah kayak kerja aja e.. pergi pagi pulang malam." Di satu sisi aku bersyukur punya kesibukan bermanfaat. Di sisi lain aku merutuki nasib karena aku ga bisa bagi fokus antara belajar dan mendesain. Merutuki kenapa harus aku yang capek-capek di antara teman-teman yang bisa santai kemana aja. Jujur aja selama ini aku ga dibayar. Gimana mau dibayar orang aku kerja di organisasi, bukan freelancer. Kecuali ada orang baik yang mau pake jasaku terus dibayar. But i feel fine-fine aja. Statusku masih siswi, disuruh untuk belajar, bukan bekerja cari duit. Jadi aku simpel aja mikirnya:
"Gapapa ga dibayar. Jadikan pengalaman desainmu disini sebagai latihan menghadapi perkuliahan yang musti multitasking dan begadang. Juga besok kalo udah gede, udah kerja. Jadikan segala yang terjadi selama ini latihan menghadapi dunia nyata setelah lulus. Gausah minta bayaran dulu. Ikhlaskan untuk organisasi dulu. Itung-itung memperkaya referensi."
Pengecualian, kalo bukan tugas dari organisasi aku lebih malas-malasan mengerjakan. Lha ga dikasih waktu longgar lebih je... minta jadi pas aku lagi sibuk-sibuknya. Ini lho yang bikin aku males ngapa-ngapain. Your majesty customer bisa seenak jidat minta revisi lah,  minta segera jadi lah, haduh..... Bayarannya bukan uang gapapa asalkan diizinin ga sekolah seminggu wes aku bersyukur.... Ntar pas diabsen, "Balma Bahira...?" trus pada jawabnya, "izin ndesain us!" Lak wagu rek.

-----

Kesimpulannya, segala pressure/tekanan yang kualami selama ini ga selalu kuanggap sebagai suatu kesulitan.  Justru sebaliknya. Dengan banyaknya tekanan yang kudapat itulah yang menguatkan. Tekanan menjadi suatu hal yang menyenangkan kalau dikerjakan dengan ikhlas tanpa meminta perhatian orang lain. Sing penting list-mu kecoret kabeh. Ga selalu aku menjadi depresi, justru karna pressed tadi yang bikin aku melambung lebih tinggi lagi. Berterimakasihlah pada pengalaman. Belajarlah untuk mengatur waktu dan prioritas.