10 juli 2026 pukul 23:55 ngetik ini di draft, sekitar 2 jam sebelum aku benar-benar dilahirkan 24 tahun yang lalu. oh, god. aku udah nambah umur lagi. perasaan 23 kemarin kayak cepet banget, tapi itu bener-bener umur yang gamechanger banget sih.
selama setahun perjalanan, aku merasa banyak banget bagian-bagian diriku yang udah lama tertidur tuh jadi kebangun lagi. aku ga merasa discovering something new, lebih ke recognizing the pattern. bener-bener jadi tahun di mana aku berusaha reconnect dan mengenali diri sendiri lagi. meskipun secara timeline, perbedaan ini lebih ngena kalau diukur dari perhitungan januari 2025-januari 2026; tapi ternyata kalau pakai hitungan angka umur, juli 2025 ke juli 2026 juga ga kalah dahsyat.
kemarin, di usia 23-ku, aku nggak ngepost tulisan di blog ini. aku nulis di medium, karena ngepas lagi nemu lagunya aldrian risjad yang bagus banget dan aku menuliskan kesanku terhadapnya. hook yang ngena banget: “dua tiga bukan puncak dunia”. ya, aku mengamini itu. sebagai anak pertama yang enggak punya kakak, aku merasa dapet wejangan cuma-cuma dari bang aldi lewat lagunya itu. pada akhirnya aku jadi terpantik untuk memikirkan arah hidupku dengan niat yang serius.
menurutku, hal paling hebat yang aku temukan di pencarian jati diri ini adalah aku memutuskan untuk pakai sistem checkpoint untuk setiap fase kehidupan. di usia 20an ini, aku menggunakan angka 25 sebagai checkpoint pertamaku. alasannya ya sederhana sih, ngikut pandangan umum aja di mana usia seperempat abad itu kayak jadi standar untuk apapun, termasuk fenomena quarter life crisis.
oleh karena itu, sejak transisi usia 23, aku punya semacam rentang span waktu untuk diriku sendiri.
23→24, 24→25, nah 25→… udah jadi (seperti) apakah diriku ini?
kini, aku sudah menghabiskan jatah 23→24. agak deg-degan sih, apakah nanti aku bisa maintenance apa-apa yang sudah kubangun di 23→24 untuk menyambut perjalanan 24→25? pun, kurasa aku sudah ingin mencukupkan diri untuk eksplorasi “dunia” apa yang aku suka. sehingga harapanku aku hanya ingin mempertahankan dan latihan untuk menjaga rutinitas/keputusan-keputusan yang sudah kubuat di 23→24 tadi.
tapi, meskipun begitu, mungkin tidak semua orang akan langsung setuju dengan apa yang aku pikirkan di atas. kalimat sejenis “kamu tuh masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk eksplorasi” agaknya enggak bisa aku ambil mentah-mentah. aku setuju bagian aku masih muda, tapi aku enggak mau menghabiskan energi dengan coba-coba lagi untuk perihal “mencicipi dunia baru”. pengalaman di persimpangan jalan kemarin cukup menguras habis segala-galanya dari diriku—uang, waktu, tenaga, kapasitas emosi, dll. dan kini, aku tidak ingin mengganggu proses acceptance-ku ini.
satu hal yang kiranya membuatku puas dan siap menghadapi fase 24→25 nanti adalah aku sudah membawa bekal baru. pengetahuan tentang diri sendiri adalah bekal paling menyenangkan dan mengenyangkan. entah, rasanya aku jadi lebih percaya diri karena aku udah belajar untuk enggak kabur lagi dalam menghadapi ketakutan-ketakutanku. ya, pengalaman dari menyelesaikan halang-rintang itu ternyata malah membuka tabir dan cerminan diriku yang tidak kelihatan secara kasat mata. dan aku bangga aku berhasil menemukan kompas serta bintang utaraku itu.
meski harus menenggak racun berkali-kali, aku jadi mengerti bagaimana caraku merefleksikan pola-pola interaksi hasil belajar dari lingkungan dan bentukan sejak masih kecil dahulu. misal tentang mengekspresikan cinta/kasih sayang ke orang lain, respons terhadap individu yang membuat gut feeling-ku berkata buruk sebelum kejadian tidak mengenakkan terjadi, karakteristik ekosistem bertumbuh yang aku pilih dengan sadar, caraku mengatur keuangan, hingga ke pilihan outfit dan style keseharianku. aduh, cinta banget!
tentu masih banyak hal yang harus aku pelajari. namun, setidaknya untuk hal-hal basic aku sudah menemukan kunciannya di 23→24. hal ini kurasa akan membantuku di fase 24→25 nanti karena pikiran-pikiran tersebut telah menemukan ujungnya (untuk sementara). aku akan mengalihkan energi dan menghemat waktu yang ada untuk mendalami dan merespons fase acceptance tadi. aku pun makin memercayai slogan “create over consume”, sehingga harapannya nanti aku akan punya lebih banyak produk yang lahir dari pilihan-pilihanku tadi. yap, produk (karya) secara harfiah!
bersyukur banget yaAllah masih dipertemukan dengan 11 Juli. tanggal yang paling aku suka, karena susunannya entah kenapa menarik banget: 110702. angka-angka yang jarang kutemui secara general. aku tidak percaya takhayul atau sejenisnya, hanya saja aku merasa kombinasi antara angka 1, 2, dan 7 itu powerful (NCT 127 kah? wkwkw). kayak tampilannya gagah dan ganteng aja gitu, padahal ya ga segitunya. aku juga tidak mengharapkan orang-orang selain keluarga ada yang ingat dengan tanggal lahirku. karena aku sadar diri, aku jarang inget sama tanggal lahirnya mereka. jadi aku enggak mau menuntut orang lain ngerti kapan aku ulang tahun. bahkan, tanggalku cenderung kusembunyikan.
entah, aku merasa enggan untuk membagikan tanggal bahkan ucapan-ucapan untuk di-repost di story. biar spesial aja kali ya? (wkwkw sok spesial). tapi asli, aku secinta itu sama tanggal 11 Juli. kayak… jarang nemu yang samaan juga soalnya. biasanya aku nemu pada tanggal 10 atau 12. oh, dan coincidentally ini barengan sama tanggal lahirnya tanteku [tante tuh adek iparnya umi!]. asli, buatku sespesial itu 11-07 ini.
jadi, di usiaku yang baru ini, aku enggak punya bayangan lebih tentang yang aku inginkan selain apa yang sudah tercantum di moodboard “the north star”-ku itu. aku cenderung mau melanjutkan apa yang udah kumulai di usia 23. 24 jadi perpanjangan dan versi yang udah lebih siap untuk menyambut 25 nanti.
juga aku sudah mengenali environment serta behavior-ku selama setahun ke depan, sehingga harapanku satu-satunya adalah “jangan ada suatu entitas baru dari eksternal yang tiba-tiba memaksa masuk ke duniaku saat ini”. biarkan aku menyesuaikan diri di fase penerimaanku dulu, mencapai hasil-hasil yang ada wujudnya di dunia-dunia yang kupilih, dan kembali menjadi Beba yang utuh dan siap menghadapi fase 25 ke atas.
yah, ini sih aku ngomong dengan kapasitasku sebagai manusia yang hanya bisa berencana. selebihnya memang kita serahkan lagi saja pada sang pencipta. zat yang lebih berkuasa dan berhak untuk mengatur skenario hamba-hambaNya. kiranya ini aja dulu yang bisa aku tuliskan yaAllah. secara detail dan spesifiknya kita ungkap secara privat aja :D.
heuh… sekali lagi, selamat berusia 24, Balma Bahira Adzkia!
malas pakai ejaan kapital yang benar, biarin aja kayak gini
photo cover credit: Julia Edbrooke on Unsplash
0 Comments
Posting Komentar