Berbondong orang-orang pergi ke spot terbuka. Kebanyakan mereka membawa kacamata hitam yang eksklusif, ga ecek-ecek. Meskipun tampilannya sedikit meragukan, yang penting bisa dipake. Meragukan karena body-nya kertas. Ada pula wartawan lokal dan manca berebutan mencari spot oke. Saingan mereka datang, dengan membawa kamera segede nangka ditambah lensa superhigh quality sepanjang galah. Merekalah para fotografer, sama, baik manca maupun lokal.
Kalian ingat tanggal 8 Maret 2016 kemarin ada apa?
Gerhana matahari. Sebuah fenomena alam yang menunjukkan āyatun min āyatillāh. Salah satu dari sekian tanda-tanda kebesaran Allah. Alhamdulillah ditampakkan di langit Indonesia. Yang total ada di daerah Kalimantan, sebagian Sumatra, dan lain-lain pokoknya yang dilewati garis khatulistiwa. Jogja dapetnya cuma sebagian, sama kayak Pulau Jawa lainnya dan daerah-daerah yang ga dilewati garis khatulistiwa (bilang aja lupa, susah banget. Iya susah untuk mengakui).
Perlu diketahui, ada sebuah cerita pada zaman Rasulullah SAW masih hidup. Anak Rasulullah yang bernama Abdullah bin Muhammad meninggal. Dan itu bertepatan dengan terjadinya gerhana. Orang-orang di sekitar membuat anggapan bahwa apabila terjadi gerhana, berarti ada seseorang yang meninggal. Kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu Nabi Muhammad bersabda yang intinya: Gerhana itu merupakan salah satu dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Allah, tak ada kaitannya dengan kematian seseorang. Maka dirikanlah shalat 2 rakaat sebagai rasa syukur kepada Allah.
Ya intinya kurang lebih seperti itu. Otomatis kita sebagai umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat kusuf tiap terjadi gerhana matahari, shalat khusuf tiap terjadi gerhana bulan. Sekolahku ga mau ketinggalan dong. Dengan Ust. Atang Sholihin sebagai imam+khatib shalat kusuf. Suasananya kayak udah mau shalat id tu lho. Soalnya pagi-pagi dan ada ceramahnya. Bolehlah.

Setelah shalat kusuf dan serangkaiannya bubar, kami berebutan meminjam kacamata ray-ban (?) milik ustadzah dan salah satu teman yang membawa. Dan tibalah giliranku untuk memakai kacamata eksklusif itu. Ketika kuarahkan ke Sang Surya, terlihatlah seonggok croissant menggantung disana. Tak bisa kupungkiri, memang benar-benar mirip kue croissant. Prosesnya tergolong cukup lama. 4 da 1st time in forevah aku liat gerhana matahari.
0 Comments
Posting Komentar